Makna Air Mata Khofifah di Haul Masyayikh Ponpes Tambakberas

 HAUL MASYAYIKH TAMBAKBERAS: Khofifah (kanan), serasa melihat KH Wahab Hasbullah hadir di haul masyayikh Ponpes Bahrul Ulum. | Foto: MNU Online

HAUL MASYAYIKH TAMBAKBERAS: Khofifah (kanan), serasa melihat KH Wahab Hasbullah hadir di haul masyayikh Ponpes Bahrul Ulum. | Foto: MNU Online

MNU Online | JOMBANG – Ribuan santriwati, warga Muslimat NU, Fatayat NU dan pengasuh Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas menunggu dengan sabar kehadiran Khofifah Indar Parawansa di Gedung Serba Guna Hasbullah Said, Minggu (15/5).

Begitu Khofifah terlihat di pintu masuk, ketua umum PP Muslimat NU itu disambut dengan bacaan shalawat Nabi Muhammad Saw. Wajah Khofifah tertunduk, air matanya tak terbendung sambil sesekali terisak.

Apa makna air mata Khofifah? “Dari ujung sana masuk ke sini, di sini membaca shalawat, saya membayangkan di depan saya Mbah Wahab (KH Wahab Hasbullah) hadir. Beliau pendiri Muslimat NU, saya ketua umumnya. Saya tak bisa banyak berbuat, Nahdlatut Tujar, tidak mudah bagi kita untuk bisa melaksanakannya,” katanya dengan suara parau.

Khofifah menuturkan, ada dua acara yang menjadi prioritasnya untuk hadir. “Pertama, Maulid Nabi Muhammad Saw meskipun hanya dapat doa. Artinya sudah hampir akhir tapi saya ikhtiarkan hadir,” katanya.

Kedua, haul masyayikh. Kenapa? “Saya tahu ilmu saya ceteknya (dangkal) luar biasa. Maka kalau ingin mendapatkan tetesan berkah, lewat haul masyayikh inilah kita semua berharap.”

Orang-orang bertakwa, lanjutnya, kelak akan masuk surga Allah secara berombong-rombong. “Kalau shalatnya sering nggak khusyuk, (puasa) Senin-Kamisnya bolong-bolong, ngajinya tidak istiqomah, mungkin juga tajwid, makharijul huruf-nya kurang baik, tapi di antara kita semua ingin masuk surga, lalu dengan cara apa?”

Maka, kata Khofifah yang juga alumnus Ponpes Barul Ulum itu, modalnya antara lain bersama para kiai dengan menghadiri haul mereka. “Kalau nggak ikut rombongan para masyayik, lalu ikut rombongan siapa? Terbayang sehari-hari kita ngisi zikir berapa jam, sementara melakukan kegiatan duniawi berapa jam,” katanya.

 SANTUNAN: Yayasan Anak Yatim Ponpes Bahrul Ulum menerima santunan dari Kemensos. | Foto: MNU Online

SANTUNAN: Yayasan Anak Yatim Ponpes Bahrul Ulum menerima santunan dari Kemensos. | Foto: MNU Online

Dia juga mengingatkan, Ponpes Bahrul Ulum sudah 191 tahun berdiri dan madrasanya 100 tahun. Artinya sudah meneteskan, melahirkan banyak kiai dan madrasah lain di berbagai belahan dunia.

“Saya menyebut berbagai belahan dunia, karena pada 2006 saya ke Nigeria ke pesantren yang 100 persen Sunni. Cara mereka membaca barjanji, shalawat, burdah, sama dengan kita. Lalu saya tanya pengasuhnya ternyata dari Jombang, Tambakberas,” ujar Menteri Sosial (Mensos) RI itu.

Meski demikian, masih banyak hal yang belum diketahui kalangan pesantren terkait ilmu pengetahuan yang berhubungan erat dengan bacaan Al Qur’an. Dia mencontohkan profesi dokter yang butuh hafalan secara detail mengenali syaraf kepala, mata atau telinga dan pondasi terkuat ternyata dari para khafid-khafidoh.

Maka tahun ini untuk penerimaan mahasiswa Fakultas Kedokteran sudah ada kuota untuk para penghafal Al Qur’an, karena basis hafalannya sangat membantu percepatan menghafal seluruh saraf dalam tubuh.

“Mungkin kita agak telat mengetahui itu, tetapi sekarang paling tidak kita melihat bagaimana sebetulnya kanalisasi profesional itu luar biasa. Karena itu, pada haul ini para sentri harus melihat bagaimana pikiran besar para kiai yang ingin mengantarkan kita selamat fiddini waddunya wal akhirah. Amin,” bebernya. ♦ nur

Baca juga

PENGUATAN MAJELIS TAKLIM: Workshop Bidang Ekonomi dan Koperasi Muslimat NU di Gedung PBNU, Rabu (7/11). | Foto: MNU Online

Hindari Rentenir, Muslimat NU Perkuat Majelis Taklim dengan Koperasi

MNU Online | JAKARTA – Induk Koperasi An-Nisa (Inkopan) Muslimat NU akan membantu membuatkan koperasi …

Watch Dragon ball super