P3SD – PP Muslimat NU

Muslimat NU-Kemendes, Tiga Hari Gelar Pelatihan di Bogor


PELATIHAN: PP Muslimat NU menggelar “Pusat Pembelajaran Pelayanan Sosial Dasar” di Ponpes Sunanul Huda, Desa Kolong 1, Bogor, Jabar, 7-9 Agustus 2017. | Foto: MNU Online

MNU Online | BOGOR – Selama tiga hari, 7-9 Agustus 2017, PP Muslimat NU menggelar “Pusat Pembelajaran Pelayanan Sosial Dasar (P3SD)” di Pondok Pesantren Sunanul Huda, Desa Kolong 1, Bogor, Jawa Barat. Kegiatan itu atas kerjasama dengan Direktorat Pelayanan Sosial Dirjen Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Kemendes PDT dan Transmigrasi.

Ketua Periodik I PP Muslimat NU, Dr Nyai Hj Sri Mulyati MA menuturkan, banyak hal yang dibahas dalam pelatihan yang dikemas lewat P3SD tersebut. Mulai kesehatan keluarga, pendidikan, keorganisasian, hingga kewirausahaan.

“Sekilas pelatihan ini terlihat hanya peningkatan usaha lahir, padahal sesungguhnya mengandung makna sebagai usaha batin,” katanya saat memberikan pengarahan dalam kegiatan yang diikuti 80 peserta kader Muslimat NU serta perempuan di wilayah Desa Kalong 1 dan sekitarnya tersebut.

Sri Mulyati lantas mencontohkan pengetahuan tentang gizi keluarga. Hal ini sangatlah penting karena terkait dengan perbaikan kesehatan. “Demikian juga pengetahuan PAUD karena guru-guru PAUD mendidik anak-anak yang masih dalam golden age (usia keemasan),” urainya.

(Baca: Pergunu Wajib Bangun Militansi NU dan Pejuang Aswaja)

Usia emas, sambung Sri Mulyati, memerlukan perhatian seksama dari orang tua, keluarga, pendidik, tokoh masyarakat dan semua unsur bangsa. “Karenanya Indonesia saat ini memiliki perhatian yang besar terhadap PAUD,” tandasnya.

Bagi Sri Mulyati, masa golden age tidak akan terulang, karena itu dalam pelatihan ini penting untuk mengenalkan kepada guru-guru PAUD berbagai motivasi anak mengingat kecerdasan mereka bervariasi.


POSE BERSAMA: Sejumlah pengurus PP Muslimat NU, pihak Kemendes dan penerima bantuan berfoto bersama di sela pelatihan. | Foto: MNU Online

Selain kedua bidang itu, peserta juga mendapatkan pengetahuan terkait peningkatan kapasitas kelembagaan melalui kursus terkait keorganisasian. “Ini juga sangat penting, misalnya, untuk mencari pemimpin yang efektif,” katanya.

Selanjutnya kewirausahaan. Dalam pelatihan ini kewirausahaan yang dikenalkan yakni berbasis kearifan lokal.

(Baca: Telan Biaya Rp 1,5 Miliar, Peresmian Bersamaan dengan Ultah Gus Dur)

Menurut Sri Mulyati, kekhasan dan kearifan lokal harus tetap dijaga seperti termuat dalam mars Muslimat NU yang menjunjung tinggi NKRI, menjaga Pancasila dan dalam mengamalkan Islam berlandaskan Al Qur’an, sunnah, ijma dan qiyas.

“Hal tersebut juga sesuai dengan harapan majunya Indonesia,” katanya.

Selebihnya, dia mengajak kegiatan ini harus diniatkan dengan keikhlasan sebagai amal jariyah bersama. “Untuk peningkatan kesejahteraan bagi ibu-ibu Muslimat NU dan rakyat Indonesia,” tuntas dosen UNU Indonesia (Unusia) Jakarta tersebut.• rizky

Baca juga

Madinah yang Bercahaya dan Hamparan Kebun Kurma

MNU Online | MADINAH – Madinah dijuluki Kota yang Bercahaya (Madinatul Munawwaroh) karena dari kota …

Watch Dragon ball super