Muslimat NU : Waspadai Dampak Teknologi !

dsc_0962BOGOR-Dalam rangka meningkatkan peran serta Ormas perempuan dalam komunikasi publik, Muslimat Nahdlatul Ulama bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) menggelar dialog publik dengan tema ‘Peran Ormas Perempuan dalam Komunikasi Publik’, di Hotel Royal Bogor, kemarin.

Dialog ini dihadiri seratus lima puluh peserta dari berbagai Ormas Perempuan dan organisasi politik, antara lain dari Muslimat, A’isyiyah, Fatayat NU, Walubi, persatuan wanita GOLKAR, PPP, PKB, PKS, Kowani, ISWI, dan PGRI dari wilayah Jabodetabek dan Banten.

Dialog publik bertujuan meningkatkan peran Ormas Perempuan dalam hal komunikasi publik, mengangkat  pentingnya eksistensi perempuan dalam pembangunan bangsa, mulai dari ekonomi, politik dan sosial media, termasuk etika berkomunikasi dengan publik.

 


Hadir diantaranya  Ketua Pimpinan Pusat Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa, Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kemenkominfo Freddy H Tulung, Direktur Jenderal Kerjasama ASEAN Kementerian Luar Negeri RI Djauhari Oratmangun, serta walikota Bogor yang diwakili oleh Ketua  Kesatuan Bangsa dan politik Kabupaten Bogor.

 

Dalam paparannya, Khofifah menegaskan pentingnya peran masyarakat luas terhadap keluarga, terutama kaum ibu di era globalisasi yang penuh dengan pengaruh alat tekhnologi. Menurutnya, saat ini sudah ada forum jejaring antar perempuan ASEAN, tetapi belum solid. “Pengaruh teknologi dalam kehidupan semakin massif yang bisa berdampak positif dan negatif,” kata Khofifah.

Dirjen Depkemkominfo Freddy H Tulung memaparkan tentang peran Kemenkominfo untuk ASEAN 2011 sebagai upaya pemberdayaan perempuan. Pihaknya turut serta mendukung pemberian pelayanan Informasi dan Komunikasi Publik (PIKP) sebagai dukungan terhadap agenda pemerintah di tengah maraknya gempuran agenda pihak swasta.

“Harus diakui bahwa pengaruh tekhnologi seperti internet dan televisi melalui berbagai programnya, sangat mengkhawatirkan bagi kehidupan sosial masyarakat ke depan,” ujarnya.
Di sisi lain, Djauhari Oratmangun selaku Dirjen Kerjasama ASEAN dari Kemenlu memaparkan, Indonesia sebetulnya mempunyai peran yang sangat penting dalam terbentuknya ASEAN. Sebab, Indonesia merupakan penggagas utama melalui figur Adam Malik.

Eksistensi perempuan juga ditandai oleh berdirinya ACWC (ASEAN Committee on Woman and Children), di mana TOR nya disahkan pada ASEAN Ministerial Meeting on Social Welfare and Development (SOMSWD) di bulan Oktober 2009 di Bangkok.

Sementara itu, pada sessi diskusi, turut hadir sebagai representasi dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), Nina Muthmainnah Armando yang menjelaskan penting televisi dalam dua wajah, yaitu merusak dan membangun.

Nina mengatakan, KPI sebagai lembaga negara  yang bersifat independen turut serta mengawasi penyiaran di Indonesia dengan membuat Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS). “Penting adanya peran serta masyarakat dalam mengkritisi tayangan televisi yang bersifat tidak mendidik,” katanya.(Yaniah Wardani/mil)

Baca juga

Gandeng Tekomsel-Bulog, Penara Layani Keuangan Digital dan Bahan Pangan Murah

MNU Online | BANDUNG BARAT – Untuk membiasakan masyarakat melakukan transaksi non tunai, Penara (Perempuan …

Watch Dragon ball super