Muslimat NU Jateng

Nadzir Tonggak Utama dalam Pengelolaan Wakaf dan Hibah

<br />  WAKAF DAN HIBAH: Seminar tentang nadzir dan keterkaitannya dengan wakaf serta hibah. | Foto: PWMNU Semarang

WAKAF DAN HIBAH: Seminar tentang nadzir dan keterkaitannya dengan wakaf serta hibah. | Foto: PWMNU Semarang

MNU Online | SEMARANG – PW Muslimat NU Jawa Tengah, dalam rangka Harlah ke-72 Muslimat NU, mengadakan seminar tentang nadzir dan keterkaitannya dengan wakaf serta hibah di Gedung Pendidikan Muslimat NU Ngaliyan, Semarang, Kamis (29/3).

Acara dimulai pukul 09.00 WIB, dihadiri kurang lebih 100 peserta dari kabupaten dan kota se-Jawa Tengah. Dalam sambutannya Ketua I PW Muslimat NU Jateng, Zuhar Mahsun berharap seminar ini memberikan manfaat, maslahat dengan profesionalitas yang lebih baik lagi dalam mengelola serta mengembangkan harta wakaf dan hibah.

“Mengingat Muslimat NU di Jawa Tengah selama 72 tahun ini, telah diamanati masyarakat untuk mengelola harta wakaf dan hibah mereka,” katanya.

(Baca: Muslimat NU Klaten Makin Melek Teknologi dan Tertib Administrasi)

Pembicara dalam acara tersebut, Drs H Ahyani, salah seorang ketua Baznas Jateng menyatakan, dalam faktanya persoalan harta wakaf dan hibah masih banyak terjadi permasalahan, sehingga perlu adanya peran nadzir.

Sebab, maslahat dan tidaknya harta tersebut tergantung pada nazdir, maka nadzir harus melaksanakan sesuai tugas-tugasnya.

“Tugas nadzir ada enam. Mengadministrasi, mengelola, mengembangkan, mengawasi, melindungi, serta membuat laporan harta benda wakaf,” ungkap anggota Pengembangan Pondok Pesantren Kemenag Jateng itu.

Nadzir Bisa Diganti

<br />  BOLEH DIGANTI: Jika tidak sesuai dengan tugas, amanah, dan tidak kompeten, nadzir boleh diganti. | Foto: PWMNU Semarang

BOLEH DIGANTI: Jika tidak sesuai dengan tugas, amanah, dan tidak kompeten, nadzir boleh diganti. | Foto: PWMNU Semarang

Mengenai nadzir, Ahyani menambahkan, jika tidak sesuai dengan tugas, amanah, dan tidak kompeten dalam mengelola dan mengembangkan barang yang diinginkan oleh si waqif, maka nadzir boleh diganti.

Sebab, dikhawatirkan barang yang diwakafkan tidak bisa dimanfaatkan sehingga tidak menjadi maslahat bagi ummat. Dengan penggantian nadzir bisa langsung diusulkan ke KUA setempat.

“Ingat, nadzir tidak selamanya bisa mengolah apa yang diusulkan oleh waqif,  serta kalau nadzir melanggar akta ikrar wakaf maka bisa diganti. Misalkan tanah  untuk masjid malah digantikan untuk pembangunan mall,” kataya.

(Baca: Tanamkan Cinta Jamiyah, Muslimat NU Korda Kedu Gelar Lomba Paduan Suara)

“Jadi yang menggugat si wakif itu bisa diusulkan ke KUA dan wakif harus tetap mengontrolnya.”

Pembicara selanjutnya, Zainuddin Zein dari Lazisnu Jateng yang memberikan pemaparan tentang hak dan kewajiban nadzir sesuai peraturan perundang tentang wakaf. Poin pokoknya, yaitu undang-undang dan peraturan pemerintah, peraturan Kemenag dan peraturan dari badan wakaf Indonesia.

Adapun narasumber terakhir, Muhammad Suaidi, fokus pada pembahasan tentang mekanisme pengelolaan wakaf sesuai peraturan perundang-undangan.• ummah farida

Baca juga

GEBYAR SHALAWAT: Muslimat NU Klaten memperingati Hari Santri Nasional dengan mengadakan kegiatan Gebyar Shalawat Lomba Hadrah, Minggu (7/10). | Foto: PCMNU Katen

Muslimat NU Klaten Gebyar Shalawat Bareng 20 Anak Cabang

MNU Online | KLATEN – Memperingati Hari Santri Nasional, PC Muslimat NU Kabupaten Klaten, Jawa …

Watch Dragon ball super