Silaturahim & Ceramah Agama

Para Anti Tahlil, Inilah Pesan Ukhuwah Islamiyah dari Khofifah


BENTENGI ASWAJA DAN NKRI: Ketum Khofifah IP, di negera berpenduduk muslim terbesar di dunia ternyata masih ditemui kelompok anti shalawat nabi. | Foto: MNU Online

MNU Online | KEDIRI – Hari ini ukhuwah islamiyah di antara penduduk muslim sebuah negara cukup mengkhawatirkan. Mulai dari Afrika, Timur Tengah sampai Asia sudah terpecah belah. Satu-satunya negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia (87 persen dari total penduduk hampir 257 juta jiwa) tinggal Indonesia yang merasakan kedamaian.

Pernyataan bernada cemas tersebut disampaikan Ketua Umum PP Muslimat NU, Dra Hj Khofifah Indar Parawansa MSi saat memberikan ceramah agama di Pondok Pesantren Al Hikmah, Purwoasri, Kabupaten Kediri, Selasa (18/4) malam.

“Di Afrika, Somalia itu 99 persen penduduknya muslim. Tapi di televisi yang kita lihat tentang Somalia penduduknya berperut buncit karena busung lapar, atau tinggal tulang karena kurang gizi. Begitu juga di Asia, di antaranya Afghanistan dan Pakistan,” kata Khofifah.

(Baca: Hadir di Kediri, Khofifah Disambut Ribuan Santri)

Khofifah lantas menceritakan saat maulid lalu dia kedatangan 17 ulama dari Afghanistan. Lewat pertemuan tersebut bisa diambil kesimpulan mereka punya PR yang berat, sama beratnya dengan para ulama suni di Makkah dan Madinah yang sudah tidak bebas membaca shalawat nabi.

“Di sana saat ini tinggal dua pondok saja, Syekh Muhammad dan Syekh Alawi,” katanya. “Terakhir, Syekh Abbas kebetulan beliau berkenan datang ke rumah saya di Jakarta dan Surabaya. Beliau bilang: Kok di Indonesia itu surga dimana-mana. Apa yang dimaksud? Orang bisa membaca shalawat dmana-mana, tidak ada yang melarang,” tuturnya.

Tapi ternyata di sini, kata Khofifah, masih ditemui kelompok yang anti maulid nabi, anti shalawat nabi. “Kalau sudah begini siapa lagi yang akan jadi penyangga kalau tidak pesantren. Semoga santri Al Hikmah ilmunya manfaat berkah untuk menjaga Ahlussunnah wal Jamaah, menjaga Islam, menjaga negara,” katanya.

Bergerak Masif


PARA IBU NYAI: Ketum Khofifah IP foto bersama para ibu nyai Pondok Pesantren Al Hikmah, Purwoasri, Kabupaten Kediri. | Foto: MNU Online

Kelompok anti tahlil maupun anti shalawat ini memang bergerak masif. Saat kunjungan kerja sebagai Mensos di Tulungagung, Khofifah sempat ‘dicurhati’ Sekdakab setempat yang mengaku sering ditemui kelompok yang katanya akan mengubah negara menjadi sistem khilafah.

Begitu pula saat kunker di Pasuruan, bahkan ada putra dari kiai pemilik pesantren di Jombang yang menjadi pimpinan kelompok ini.

“Saya menemukan ini dimana-mana. Ini ada orang yang punya jaringan banyak mau merubah Indonesia menjadi sistem khilafah. Kalau sistem khilafah maka pimpinannya khalifah, bukan Khofifah,” ujarnya yang disambut ger-geran santri maupun pengasuh Ponpes Al Hikmah.

(Baca: Harlah di Nganjuk, Jamaah ‘Mengular’ hingga 300 Meter)

Khofifah bahkan sudah menyampaikan pada mereka, jika kita membikin kelompok sekecil apapun untuk mendeklarasikan sistem khilafah, maka pada saat yang sama Islam akan terpecah belah.

“Afrika sudah, Timur Tengah sudah, Asia khususnya di Afghanistan dan Pakistan sudah, maka sedikit saja ada letupan hal itu akan menjadi pintu masuk untuk memecah belah komunitas muslim terbesar di dunia dan itu Indonesia,” katanya.

Nah, hal-hal seperti ini, tandas Khofifah, siapa lagi yang menjaga kalau tidak pesantren. “Dari pesantren inilah peneguhan terhadap Ahlussunah wal Jamaah dan NKRI kita lakukan. Mudah-mudahan semuanya dijaga dan diselamatkan Allah Swt. Amin,” tuntasnya.• nur

Baca juga

Khofifah: Jangan Biarkan Investasi Akhirat Tergerus Lewat Handphone

MNU Online | TANGSEL – Ketua Umum PP Muslimat NU, Dra Nyai Hj Khofifah Indar …

Watch Dragon ball super