Pendidikan Malaysia Maju Berkat Terapkan Sistem Pesantren

 MAKSIMALKAN POTENSI SANTRIWATI: Santriwati Ponpes Annuqoyah, Guluk-Guluk, Sumenep. Saatnya diberi kesempatan belajar memaksimalkan potensi kekayaan alam di sekitar pesantren | Foto: MNU Online

MAKSIMALKAN POTENSI SANTRIWATI: Santriwati Ponpes Annuqoyah, Guluk-Guluk, Sumenep. Saatnya diberi kesempatan belajar memaksimalkan potensi kekayaan alam di sekitar pesantren | Foto: MNU Online

MNU Online | SUMENEP – Dalam banyak hal, Malaysia ternyata lebih maju dari Indonesia. Ironisnya, kemajuan itu dicapai di antaranya setelah mereka belajar dari apa yang sudah bertahun-tahun kita lakukan.

Di bidang olahraga, misalnya, Malaysia yang menimbah ilmu cabang bulutangkis dan sepakbola dari atlet-atlet Indonesia, sepulang ke negerinya malah bisa mengukir prestasi lebih hebat.

Pun demikian di bidang pendidikan. Di kurun waktu 1970-1980, Malaysia banyak menghadirkan guru besar dari Indonesia untuk mendidik anak-anak Jiran. Tapi kini kondisinya berbalik, putra-putri Indonesia justru banyak yang belajar ke Malaysia.

Apa rahasianya? Ketika KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi presiden, selama dua tahun Khofifah Indar Parawansa ditugaskan untuk mengintip kemajuan pendidikan di Malaysia.

“Dua tahun saya diminta Gus Dur mondar-mandir ke Malaysia. Ternyata kuncinya Malaysia menerapkan boarding school alias sekolah berasrama dan sekolah berasrama itu ya pesantren,” kata ketua umum PP Muslimat NU tersebut saat silaturahim dengan keluarga besar Pondok Pesantren (Ponpes) Annuqoyah, Guluk-Guluk, Sumenep, Madura, Minggu (30/10).

(Baca: Ilmu Bisa Didapat dari Guru, Keikhlasan Kiai Kunci Keberhasilan Santri)

Karena itu, kata Khofifah, bersyukurlah para santriwati yang tinggal di Ponpes Annuqoyah. “Maksimalkan berbagai riyadhoh di pesantren ini. Tinggal di pesantren menjadi kesempatan seluruh santriwati untuk membaca dan menghafal Al Qur’an, membaca kitab dan amal kebaikan lainnya. Ini kesempatan,” ujarnya.

Belajar dari keberhasilan Malaysia, bisa disimpulkan pesantren di Indonesia yang jumlahnya ratusan ribu memiliki peran strategis dalam menentukan kemajuan bangsa ini. Namun, lanjut Khofifah, hal itu baru bisa terasa ketika pesantren mampu memainkan kekuatannya tidak hanya di urusan pengetahuan agama.

“Tapi juga masalah yang berkaitan secara langsung dengan kebutuhan hidup masyarakat, sesuai potensi lokal di sekitar pesantren,” katanya. Dia menyebut salah satunya peran pesantren di bidang pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Menurut Khofifah, di Pulau Madura, terutama Kabupaten Sumenep, tersimpan melimpah kekayaan minyak dan gas (migas) dan sudah saatnya eksplorasi migas di Pulau Garam dikomandani para santri.

“Karena itu, para kiai dan ibu nyai mohon meridhoi jika ada santri yang ingin meneruskan kuliah di Fakultas Pertambangan. Kalau nanti muncul pakar-pakar pertambangan, maka yang akan jadi komandan pertambangan di Madura yakni para santri,” tandasnya. • nur

Baca juga

BERPULANG: Nyai Hj Aisyah Hamid Baidlowi binti KH Abdul Wahid Hasyim wafat) di Jakarta, Kamis (8/3). | Foto: NU Online

Nyai Aisyah Hamid Baidlowi, Mantan Ketum PP Muslimat NU Wafat

MNU Online | JAKARTA – Tepat di Hari Perempuan Internasional, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat …

Watch Dragon ball super