Tahun Baru Islam 1439 H

Penting bagi Nahdliyin Memahami Trah Ulama Sunni, Syiah dan Wahabi


AKHLAK TERHADAP KIAI: Ketum Nyai Hj Khofifah IP enggan duduk di kursi yang disediakan penitia saat berceramah di hadapan para kiai . | Foto: MNU Online

MNU Online | JEMBER – Inilah potret dari sikap tawadhu dan akhlak Ketua Umum PP Muslimat NU, Dra Nyai Hj Khofifah Indar Parawansa MSi terhadap para kiai. Meski disiapkan kursi, dia memilih berceramah dengan duduk bersimpuh membaur bersama jamaah perempuan lainnya.

Pemandangan itu terlihat pada pengajian umum merayakan Tahun Baru Islam 1439 Hijriyah, tahlil KH A Muchith Muzadi dan KA A Hasyim Muzadi serta almarhumin keluarga besar Masjid Sunan Kalijaga Kabupaten Jember, Jawa Timur, Jumat (22/9) malam.

Khofifah yang didampingi Ketua PC Muslimat NU Kota Malang, Nyai Hj Mutammimah Hasyim Muzadi dan Ketua PC Muslimat NU Jember Nyai Hj Emi Kusminarni, didaulat menjadi penceramah kedua setelah Wakil Pengasuh Ponpes Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo, KH Afifuddin Muhajir.

(Baca: Siapkan Generasi Emas Indonesia, Muslimat NU Pacu Kualitas PAUD)

Selain tokoh Muslimat NU, hadir dalam acara tersebut sejumlah kiai dan dan pejabat, di antaranya Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Jember KH Abdul Halim Subahar serta Rektor Universitas Jember (Unej) Moh Hasan.

Dalam ceramahnya, Khofifah mengajak jamaah untuk merefleksi ke-NU-an, kebangsaan dan kemasyarakatan. Sebab, di antara warga NU maupun bangsa, tak banyak tokoh yang bisa membangun harmonisasi dalam kehidupan antarumat beragama.

Begitu juga dalam merajut jaringan NU struktural dan kultural, serta melakukan identifikasi trah (silsilah) ulama Sunni, Syiah maupun Wahabi sebagai referensi dan panutan dalam kehidupan ber-Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).

Kontradiktif dengan Aswaja

Khofifah lantas menceritakan ketika melakukan silaturahim di sela menunaikan ibadah haji awal bulan lalu ke kediaman ulama terkemuka Makkah, Sayyid Alawy bin Sayyid Abbas Al Alawy Al Maliki Al Hasany.

Perempuan yang juga Menteri Sosial itu sedikit kaget saat ditanya, “Mengapa ulama Wahabi maupun Syiah kalau ke Indonesia kok diterima dengan upacara yang meriah,” kata Khofifah menirukan pertanyaan Sayyid Alawy.

Khofifah pun tak bisa menjawab secara detail, karena bagi orang Indonesia kalau ada sayyid maupun masyayikh dari Timur Tengah dianggap keturunan nabi.

“Coba, berapa banyak kiai yang bisa menjelaskan kepada santrinya, umatnya, jamaahnya terkait ulama trah Wahabi, Syiah maupu Sunni,” kata Khofifah.

(Baca: Madinah yang Bercahaya dan Hamparan Kebun Kurma)

Menurut Khofifah, kiai yang bisa menjawab tak sekadar dibekali referensi, tapi harus memiliki hubungan internasional dengan kiai-kiai dunia secara kontinyu. Satu di antaranya yang sedikit itu yakni almaghfurlah Kiai Hasyim Muzadi.

“Sehingga bisa menjelaskan kepada mustamik, santri dan kita semua, ini lho ulama trah Wahabi, Syiah maupun Sunni,” katanya.


KIAI AHLI FIQIH: Wakil Pengasuh Ponpes Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo, KH Afifuddin Muhajir memberikan ceramah sebelum Ketum Nyai Hj Khofifah IP. | Foto: MNU Online

Ketika dalam situasi ini tidak ada yang menjernihkan, lanjut Khofifah, maka yang muncul adalah garis maupun titik yang bisa saja sangat kontradiktif dengan tradisi Aswaja.

Karena itu, kehadiran Sayyid Alawy ke Indonesia Rabiul Awal nanti bisa dimanfaatkan untuk memberikan pencerahan sekaligus referensi terkait trah ulama. “Semoga beliau bisa memberikan satu forum untuk mengajak kita diskusi dan memberikan referensi bagi kita semua,” katanya.

(Baca: Mbah Wahab “Singa Podium”, Nyai Machfudhoh “Jimat Muslimat NU”)

Satu pelajaran yang bisa dipetik dari ini semua, tambah Khofifah, betapa PR pesantren dan NU ternyata sangat bayak, termasuk dalam menjaga agama. Terlebih sekarang ini orang yang tinggal di perkotaan memiliki kecenderungan berguru pada gadget. “Ini membuat sanadnya tidak jelas karena gurunya gadget,” tandasnya.

Karena itu, Khofifah berharap intelektual muda NU bisa bersinergi dengan pesantren dan para kiai, entah lewat streaming dan seterusnya, “Sehingga apa yang akan menjadi referesi kehidupan, keagamaan, kebangsaan, kenegaraan, keilmuan dan kemasyarakat menjadi jelas,” tandasnya.• nur

Baca juga

PENGUATAN MAJELIS TAKLIM: Workshop Bidang Ekonomi dan Koperasi Muslimat NU di Gedung PBNU, Rabu (7/11). | Foto: MNU Online

Hindari Rentenir, Muslimat NU Perkuat Majelis Taklim dengan Koperasi

MNU Online | JAKARTA – Induk Koperasi An-Nisa (Inkopan) Muslimat NU akan membantu membuatkan koperasi …

Watch Dragon ball super