Peran Keluarga dalam Mencegah Faham Radikal

Oleh : Mursyidah Thahir

mursyidah_thahir

                                                                      | Foto: Istimewa

KELUARGA merupakan benteng yang kokoh dalam menjaga keselamatan anggota keluarga dari berbagai bahaya yang mengancam kehidupan berakidah, salah satunya faham radikal.Faham radikal dimulai dari pemahaman yang keliru akibat indoktrinasi yang tertanam pada pemikiran radikal yang kemudian mewujud menjadi tindakan destruktif.

Dalam sebuah seminar lintas agama tentang Konsep Ketuhanan, Kemanusiaan dan Ajaran Sosial yang diselenggarakan di Jakarta pasca peristiwa Bom Bali tahun 2002, ada pertanyaan menarik dari salah seorang peserta kepada penulis, Ia memperkenalkan dirinya bernama Maria, dari Bandung, beragama Katolik.

“Ibu Mursyidah, saya mohon penjelasan tentang konsep jihad, apakah jihad itu melawan orang-orang kafir ? Apakah setiap non muslim adalah kafir ? Lalu apakah setiap orang kafir itu halal darahnya, halal hartanya dan boleh dibunuh meskipun alasannya belum jelas ? Padahal kami yang katolik ini sejak kecil dididik oleh orang tua kami agar menjadi manusia yang baik dan hidup dalam suasana damai. Kami diajak ke gereja setiap hari minggu agar kami menjadi orang yang beriman. Yang ingin kami tanyakan, pengertian kafir itu apa, dan jihad itu melawan siapa ? Apakah orang seperti kami ini juga menjadi target ? ”

Sederet pertanyaan tersebut selalu muncul dalam setiap pembahasan radikalisme di Indonesia dari sudut pandang orang awam. Sejak terjadi aksi bom natal di sejumlah gereja di Indonesia pada tahun 2000, lalu disusul bom bali I (12 Oktober 2002), bom Marriot di Jakarta (5 Agustus 2003), bom kedutaan besar Australia (9 September 2004) bom Bali II (1 Oktober 2005), bom Marriot-Ritz Carlton (17 Juli 2009) sampai dengan munculnya gerakan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) tahun 2013 yang telah terkonsolidasi di berbagai kelompok radikal seluruh dunia termasuk Indonesia.

Kali ini radikalisme mewujud dalam aksi terorisme global melalui agenda war on terror dilakukan oleh kelompok radikalis ”muslim” di berbagai negara berpenduduk muslim, menghancurkan masjid-masjid dan membunuh begitu banyak umat Islam.Dalam konstelasi politik di Indonesia, gerakan-gerakan radikalisme muncul dalam banyak kelompok dengan tujuan yang kadang berbeda satu sama lain dan tidak memiliki pola organisasi yang seragam.

Menurut hasil kajian LIPI di antara kelompok radikalis, ada yang sekedar memperjuangkan implementasi syariat Islam tanpa harus mendirikan negara Islam, namun ada pula yang memperjuangkan berdirinya negara Islam Indonesia di samping yang memperjuangkan kekhalifahan Islam.[1]           

Definisi Radikalisme/Radikalisme Agama

Ada banyak definisi tentang radikalisme/radikalisme agama, di antaranya :  

1. Menurut Huntington, radikalisme adalah ideologi dan tindakan radikal yang disebabkan oleh benturan peradaban.[2]

2. Menurut Said Aqil Siradj, radikalisme agama adalah ide dan praktik kekerasan bermotif agama.[3]

3. Menurut Muladi Mughni, radikalisme adalah pemikiran radikal terhadap dunia yang penuh kenistaan yang harus dikembalikan pada negara agama.[4]

4. Menurut Ansyad Mbai, radikalisme adalah akar dari terorisme.[5]

Istilah radikalisme sendiri dalam ilmu sosial dipahami sebagai sebuah konsep yang netral, yakni suatu pandangan yang ingin melakukan perubahan mendasar sesuai penafsiran yang dimiliki terhadap realitas sosial atau ideologi yang dianut.

Dalam mewujudkan keinginan melakukan perubahan yang mendasar tidak harus menggunakan kekerasan karena bisa dicapai dengan cara damai. Akan tetapi kemudian istilah radikalisme menjadi bermakna negatif, menggambarkan suatu gerakan yang ekstrem, militan atau garis keras.

Pemahaman seperti Ini dapat disimpulkan dari beberapa definisi di atas, adanya titik kesamaan dalam istilah radikalisme sebagai suatu gagasan dan keinginan terhadap terjadinya perubahan sosial, politik, kultur dan/atau ideologi dengan cara ekstrem, bahkan ada yang menyebutnya sebagai akar terorisme.

Faktor-Faktor Pemicu Radikalisme

Banyak faktor yang menyebabkan munculnya benih benih radikalisme di kalangan masyarakat.

1. Instabilitas negara-negara Timur tengah.

Timur Tengah merupakan wilayah regional yang paling tidak pernah stabil sejak pasca Perang Dunia II baik terkait masalah politik, sosial maupun agama. Konflik Palestina-Israel, pertarungan antar negara Arab maupun konflik politik domestik menimbulkan pertarungan sengit antara gerakan pro demokrasi terhadap kelompok militan radikal dengan semangat sektarianisme keagamaan yang menyala-nyala.[6] Kelompok militan radikal dengan sangat bangga menamakan gerakan dan perbuatan terorisnya sebagai gerakan jihad membela Islam tetapi tidak pernah mengevaluasi hasil perjuangannya. Pernahkah mereka mengkalkulasi jatuhnya korban dari pihak kawan atau lawan ? Inilah yang membedakan antara teroris Islam dengan teroris Kristen. Teroris Kristen seperti yang terjadi di Irlandia dan Basque tidak pernah membawa-bawa nama Kristen dalam setiap gerakan terornya.[7]

2. Terbentuknya kesadaran kolektif untuk melawan musuh-musuh Islam tanpa diimbangi pengetahuan dan strategi yang memadai. Kelompok militan radikal memandang Amerika sebagai kekuatan dominan kaum kafir yang menjarah sumber-sumber daya alam di negara-negara muslim, mendukung tiran-tiran lokal yang korup demi memenuhi kepentingan Amerika.[8]

Sayangnya mereka bergerak dengan strategi yang berlawanan arah sehingga lebih banyak membunuh kawan daripada lawan.

3. Agenda war on terror

Bagi kelompok militan radikal, war on terror adalah kelanjutan perang salib atas motif balas dendam   yang dijustifikasi dengan ayat-ayat al-Qur`an dan hadis Nabi yang mengizinkan perang melawan kaum kafir.[9]

4. Keyakinan politik Keagamaan

Dari beragam corak gerakan jihad radikalis muslim, ada sejumlah kesamaan yang bersumber dari keyakinan politik keagamaan yang mereka yakini bahwa :

a. Sistem demokrasi merupakan sistem kafir yang bertentangan dengan Islam.

b. Seluruh rezim yang berkuasa di negara demokrasi telah murtad karena membuat peraturan perundangan tidak berlandaskan hukum Allah.

c. Polisi dan tentara secara kolektif termasuk kelompok murtad

d. Orang Islam yang hidup dalam rezim kafir masih tetap muslim, namun sebagian mereka ada yang berpendapat termasuk kafir.

e. Setiap ulama yang membela rezim kafir dianggap sebagai munafik.

f. Semua aliran jihadi menolak kompromi atau perdamaian dengan israel dalam kasus palestina.

g. Orang kafir dalam komunitas Islam tidak akan diperangi sepanjang mentaati perjanjian pedamaian dan memegang prinsip-prinsip ahlu dzimmah.

h. Mayoritas aliran jihadi setuju bahwa Amerika Serikat adalah simbol kekuatan Nasrani dan Yahudi yang harus diperangi. Akan tetapi tidak semua setuju untuk melakukan konfrontasi langsung.[10]

5. Kekeliruan Memaknai Kafir

Menurut mereka, sistem demokrasi negara bangsa identik dengan sistem kafir. Maka seluruh rezim yang berkuasa di negeri muslim tetapi membuat peraturan perundangan tidak berlandaskan hukum Allah adalah kafir, termasuk di antaranya para pejabat tinggi negara, anggota legislatif, eksekutif dan yudikatif.Adapun orang yang bekerja di bawahnya tidak dihukumi kafir secara personal karena dianggap sebagai uzur syar`iy.[11]

6. Kekeliruan Memaknai Jihad

Karena begitu banyak elemen yang dianggap kafir oleh kaum radikalis, bahkan termasuk mereka yang menghormati bendera, menyanyikan lagu kebangsaan, atau ritual hormat kepada pasukan maka lahirlah gagasan paling ekstrim yaitu gerakan ”jihad” melawan orang-orang kafir.

Gerakan “Jihad” di Indonesia

Gerakan “jihad” radikalis di Indonesia terbentuk antara lain karena keterkaitan Jemaah Islamiyah dengan Al-Qaeda. Pada mulanya Indonesia kurang diperhitungkan oleh Osama bin Laden karena dianggap tidak strategis dibandingkan dengan Filipina dan Thailand. Oleh karenanya pada tahun 1996-1998 perwakilan kelompok jihad pimpinan Osama bin Laden dipusatkan di Kuala Lumpur dengan menunjuk Umar Faruq sebagai penanggung jawab wilayah operasi Filipina dan Thailand dengan alasan di kedua negara ini memiliki penduduk minoritas muslim yang lebih mendesak untuk dibantu.

Baru pada 1999 ketika terjadi kerusuhan di berbagai daerah, khususnya Ambon dan Poso, posisi Umar Faruq digeser dari Filipina ke Indonesia. Maka sejak itu Indonesia menjadi sasaran aksi terorisme internasional di bawah Al-Qaeda di samping terorisme lokal ( bom di gedung BEJ th 2000, bom Istiqlal 1999 oleh Angkatan Mujahidin Islam Nusantara dan aksi GAM di Aceh) yang ketika itu masih terus beroperasi.[12]

Peristiwa 11 September 2001 merupakan peristiwa yang sangat penting baik bagi Al-Qaeda maupun Amerika. Bagi Al-Qaeda itu merupakan keberhasilan strategi dalam rangka mematok kepala ular, yaitu Amerika serta mampu memikat kelompok radikalis seluruh dunia termasuk Indonesia untuk memasuki dunia ”jihad”.

Jihad ala radikalis ini di mata mayoritas umat islam tidak sesuai dengan konsep jihad dalam al-Qur`an karena tidak memberikan keuntungan apapun bagi kemaslahatan umat baik secara politik, ekonomi, sosial maupun agama. Yang terjadi malah sebaliknya, memporak-porandakan negara-negara Islam dan membunuhi umat Islam.

Sementara bagi Amerika peristiwa 11 September dijadikan isu sentral untuk membelokkan orientasi politik luar negerinya melalui kampanye global melawan terorisme, sehingga dalam waktu singkat isu terorisme tiba-tiba menjadi agenda global, mengalahkan agenda demokratisasi dan penegakan HAM serta menjadikan negara-negara Islam semakin tertekan.

Konsep Kafir dan Jihad Dalam Al-Qur`an

Konsep kafir di dalam al-Qur`an dikelompokkan dalam lima   pengertian :
Pertama, Kafir nikmat ; yaitu setiap orang (apapun agamanya) yang tidak mensyukuri nikmat yang diaugerahkan Allah kepadanya, misalnya orang kaya yang tidak peduli pada kesulitan orang miskin atau orang pandai tetapi tidak mau mengajarkan ilmunya kepada yang belum tahu. Hal ini ditegaskan dalam surah Ibrahim ayat 7

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

Kedua, Kafir kitabi ; artinya pengingkaran pada kitab Suci. Istilah ini diberikan kepada orang-orang Yahudi yang mengangkat Uzair sebagai anak Allah dan orang-orang Nasrani yang mengangkat Isa sebagai anak Allah. karena hal ini merupakan pengingkaran (kekufuran) mereka terhadap ajaran kitab Taurat yang diturunkan Allah kepada nabi Musa dan kitab Injil yang diturunkan Allah kepada nabi Isa. Hal ini ditegaskan di dalam surah al-Maidah ayat 17, 72 dan 73 serta surah at-Taubah ayat 30 dan 31:

 
   

72. Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang zalim. (QS. Al-Maidah: 72)

73.       Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. (Q.S. Al-Maidah: 73)

 
   

Al- Maidah ayat 17:

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putera Maryam”. Katakanlah: “Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan Al Masih putera Maryam beserta ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi kesemuanya?”. Kepunyaan Allahlah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya; Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Q.S. Al-Maidah: 17)Surat at-Taubah ayat 30 dan 31 :………

Ketiga, Kafir millah ; adalah sebutan bagi orang-orang yang tidak mengikuti agama para nabi. Muslim adalah sebutan bagi semua pengikut para nabi. Menurut al-Qur`an semua nabi membawa ajaran Islam dan para pengikutnya disebut muslim. (lihat S. Ali Imran ayat 52 dan 67, S. Yunus ayat 84 dan 90, S. An-Naml ayat 42 dan 44) .
Kafir millah adalah terminologi netral untuk membedakan antara pengikut Muhammad dan yang tidak mau mengikutinya. Umat Islam boleh bekerjasama dengan umat lain dalam urusan kemanusiaan tetapi tidak boleh berkompromi dalam ibadah secara bergiliran seperti yang ditawarkan kaum musyrikin kepada nabi Muhammad saw, satu tahun mereka mau mengikuti shalat di belakang Muhammad tetapi satu tahun berikutnya umat Islam harus ikut menyembah berhala. Karena kasus inilah maka Allah menurunkan Surah Al-Kaafiruun ayat 1-6 :

 

1. Katakanlah: “Hai orang-orang kafir,

2. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.

3. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah.

4. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah,

5. dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.

6. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.”

Keempat, Kafir zhimmi ; adalah umat non muslim yang berdomisili di negara Islam. Karena umat Islam terikat kewajiban membayar zakat yang dikelola negara, maka mereka yang tidak wajib zakat diwajibkan membayar pajak. Bila mereka membayar pajak dan mentaati konstitusi negara maka mereka berhak mendapat perlindungan politik, sosial maupun ekonomi.

Hal ini ditegaskan dalam Surat At Taubah ayat 29 :

Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah[13] dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk. (Q.S. At-Taubah: 29)

Kelima, Kuffar ; adalah sebutan bagi orang-orang kafir yang zalim terhadap umat Islam. Mereka mengganggu dan menghalangi ibadah umat Islam bahkan melakukan penyerangan-penyerangan yang mengancam keamanan teritorial. Di Madinah Rasulullah mempersatukan kaum muhajirin, anshar, yahudi dan nasrani dengan beberapa agenda penting, antara lain persaudaraan masyarakat Madinah, pengentasan kemiskinan, keadilan jender dan pertahanan. Mereka bersatu untuk bersama-sama menjaga keamanan kota Madinah dari ancaman luar. Bila ada musuh menyerang, dihadapi bersama dan bila ada biaya yang ditimbulkan harus ditanggung bersama.

Perintah jihad hanya boleh dilakukan kepada kelompok kuffar dan munafiqiin, bukan orang kafir. Hal ini ditegaskan dalam surah at-Taubah ayat 73 dan 123 : 73. Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah jahannam. Dan itu adalah tempat kembali yang seburuk-buruknya. (Q.S. At-Taubah: 73) . 123. Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah bersama orang-orang yang bertaqwa. (Q.S. At-Taubah: 123)

F. Makna Jihad

Majelis Ulama Indonesia (MUI)   telah mengeluarkan fatwa nomor 3 tahun 2004 tentang terorisme dan perbedaannya dengan jihad. Terorisme adalah tindakan kejahatan terhadap kemanusiaan dan peradaban yang menimbulkan ancaman serius terhadap kedaulatan negara, bahaya terhadap keamanan, perdamaian dunia serta merugikan kesejahteraan masyarakat.

Jihad (dalam pengertian al-harb)

  1. Segala usaha dan upaya sekuat tenaga serta kesediaan untuk menanggung kesulitan di dalam memerangi dan menahan agresi musuh dalam segala bentuknya.
  2. Jihad (dalam pengertian li i’laai kalimatillah) adalah segala upaya yang seungguh-sungguh dan berkelanjutan untuk menjaga dan meninggikan agama Allah. Selanjutnya dalam fatwa tersebut dijelaskan adanya perbedaan sangat tajam antara terorisme dengan jihad, bahwa terorisme sifatnya merusak dan anarkhis, tujuannya untuk menciptakan rasa takut dan atau menghancurkan pihak lain tanpa aturan dan sasaran tanpa batas. Sementara jihad sifatnya melakukan perbaikan /Ishlah sekalipun dengan cara peperangan. Tujuannya menegakkan agama Allah dan/atau membela hak –hak pihak yang terzalimi serta dilakukan dengan mengikuti aturan yang ditentukan oleh syari’at dengan sasaran musuh yang sudah jelas.

 

Siapakah Musuh Yang Harus Diperangi?

Musuh yang secara eksplisit disebut Allah dalam al Quran adalah :

1.Kuffar sebagaimana yang tercantum di dalam surat at Taubah ayat 73 dan 123 yaitu selain karena kekafirannya mereka juga melakukan kezaliman yang melanggar nilai-nilai agama dan kemanusiaan. Mereka bukan saja menolak dakwah Nabi, tetapi juga mengganggu umat Islam menjalankan ibadahnya, menyiksa para pemeluk Islam, menawarkan hadiah bagi yang berhasil membunuh Muhammad dan mengancam akan melakukan perang terbuka                                    2. Munafiqun, sebagaimana tercantum dalam surat at Taubah ayat 73 adalah mereka, baik umat Islam maupun yang lainnya yang mengkhianati perjanjian/konstitusi yang telah mereka sepakati bersama sebagai anggota bangsa (masyarkat Madinah).Mereka melakukan pengkhianatan terhadap konstitusi yang telah mereka sepakati dengan cara menyebar fitnah yang bertujuan untuk mendongkel kepemimpinan yang sah bahkan melakukan gerakan-gerakan tertutup yang mengancam kedaulatan sebuah negara.

G. Peran Keluarga dan Masyarakat Dalam Menanggulangi Faham Radikal

Berdasarkan pemaparan di atas menunjukkan bahwa   faham radikal sangat membahayakan kehidupan bukan saja dalam keluarga, tetapi juga kehidupan berbangsa dan beragama. Beberapa langkah di bawah ini mungkin bisa memberi solusi jangka panjang untuk memberantas faham radikal yang harus dilakukan secara sinergis dengan melibatkan peran pada masing-masing tingkatan mulai dari individu, keluarga, masyarakat dan negara.

  1. 1.Penguatan pemahaman individu dan keluarga

Pemahaman yang kuat terhadap ajaran yang benar dari individu dapat menangkal doktrin paham radikal.

Perekrutan pelaku tindakan radikal umumnya berasal dari para individu (pemuda) yang semangat keislamannya tinggi namun pemahaman Islamnya rendah. Disinilah kemudian terjadinya cuci otak (brain washing) dapat berhasil terhadap seseorang karena tidak memiliki pemahaman awal tentang Islam yang benar maka ia akan menurut apa saja yang diungkapkan oleh guru yang salah. Tak jarang rekrutmen “calon pengantin”pelaku bom bunuh diri dilakukan dengan modus seperti ini.

Peran keluarga juga sangat penting dalam menangkal paham radikal. Keluarga adalah sekolah pertama dari hampir semua manusia. Peran pemberian pemahaman yang baik dan benar dari kedua orang tua akan memberikan “antibodi” terhadap pemahaman yang salah yang ditemukan anggota keluarga, khususnya anak dan remaja, yang sedang dalam proses pencarian jati diri.  

 

  1. 2.Memberikan pemahaman yang benar kepada masyarakat :

Dewasa ini pemahaman ummat Islam terhadap ajaran agamanya dan tuntutan untuk menjalankan syariat Islam dengan baik semakin meningkat. Kesadaran ini meningkat tidak hanya keinginan untuk menjalankan Islam kaffah secara ibadah ritual, namun juga kewajiban lainnya. Parameter sederhana yang bisa dijadikan contoh misalnya dengan semakin trendnya penggunaan jilbab untuk menjalankan kewajiban menutup aurat di level individu. Tumbuh kembangnya berbagai organisasi keislaman sebagai representasi keinginan untuk menjalankan aturan Islam dalam bidang muamalah seperti Badan Zakat, wakaf dan perbankan syariah.

Pemikiran yang berkembang di tengah masyarakat haruslah pemikiran yang baik. Kesadaran ummat Islam yang semakin meningkat untuk menjalankan syariat Islam secara kaaffah harus dibarengi dengan pemahaman bahwa tidak ada hubungan antara upaya menegakkan syariah Islam dengan aksi radikal dan teror. Dengan berpijak dan meneladani dakwah Rasulullah saw, maka sesungguhnya jelas tidak ada satu pun dalil (nash) al-Quran maupun as-Sunnah yang mengajarkan tindakan-tindakan kekerasan dalam upaya mendakwahkan dan menerapkan syariah Islam.

Di sinilah posisi ulama sebagai panutan di tengah masyarakat memiliki peran penting dalam memberikan pemahaman Islam yang benar. Melalui pengajian rutin, tabligh akbar, khutbah jumat dan berbagai forum lainnya, ulama memegang peran kunci dalam memberikan pemahaman yang benar kepada masyarakat luas.

 

  1. 3.Solusi Negara :

Tingkatan tertinggi dalam mengatasi radikalisme adalah peran negara. Negara sebagai pengemban amanah untuk mensejahterakan rakyat memiliki kemampuan secara sistem untuk mendidik warga negara menuju kesejahteraan dan kebahagiaan dalam “baldatun thayyibatun warabbun ghafur”.

Setidaknya melalui instrumen ekonomi, pendidikan dan penegakan hukum negara memiliki peran yang sangat besar dalam mengatasi paham radikal. Melalui program ekonomi dan peningkatan kesejahteraan secara tidak langsung akan menghilangkan radikalisme. Seringkali radikalisme itu juga muncul diakibatkan rasa ketidakadilan dan keputusasaan yang diakibatkan himpitan faktor ekonomi. Ketika beban ekonomi semakin menghimpit maka seseorang dapat gelap mata mencari solusi apapun yang dianggap mampu mengatasi kesulitan hidupnya, di antaranya iming-iming kenikmatan dan keindahan kehidupan di syurga.

Instrumen penegakan hukum yang dimiliki negara dapat dijalankan untuk mengisolir pelaku tindak radikal dan untuk menimbulkan efek jera serta mencegah terulangnya tindak radikal. Namun penegakan hukum ini tidak boleh larut dalam agenda global war on terrorisme yang menjadikan negara ini sebagai pion negara lain. Kerjasama dalam menanggulangi radikalisme dan terorisme harus dibarengi dengan sikap sebagai negara yang berdaulat dan bermartabat dengan tidak didikte dan diintervensi dalam pembuatan rambu hukum maupun penegakan hukumnya. Jangan sampai pula melahirkan ironi demokrasi, yang seharusnya menjunjung freedom of speech dan HAM namun yang terjadi adalah tindakan represif dengan tindakan kekerasan atas nama kepentingan nasional terhadap setiap sasaran yang baru diduga mengancam kepentingan bangsa atau penguasa. Dan tidak boleh ada generalisasi yang menyamakan antara tindakan radikal (teror) dengan orang yang dianggap memiliki pandangan pemikiran yang dianggap berbeda dengan penguasa.

Instrumen pendidikan yang diamanahkan kepada negara memiliki dampak yang paling signifikan terhadap pencegahan radikalisme. Pembuatan kurikulum yang berlaku secara nasional yang memberikan pemahaman yang benar secara massal kepada segenap warga negara hanya dapat dilakukan oleh negara. Kurikulum yang baik akan mendidik warga negara dalam pemahaman yang benar da mencegah radikalisme. Namun perlu juga diwaspadai agar kurikulum tidak kemasukan penumpang gelap atas nama pencegahan radikalisme dengan memasukkan pluralisme, liberalisme dan sekularisme agama yang sudah dinyatakan haram sesuai Keputusan Fatwa MUI No. 3 tahun 2004 dan Fatwa MUI no. 7 dalam Munas MUI tahun 2005. ♦


[1] www. Academia.edu, Rimbun Natamarga, Wahabi di Arus Radikalisme islam di Indonesia, Makalah, hal. 2 
[2] Samuel Huntington, Clash of Civilization and Remaking of World Order, 1997 
[3] www.voaindonesia.com.radikalisme/2660648.html 
[4] Muladi Mughni, Lc. Faktor penyulut radikalisme, 30 Juli 2008 
[6] Azyumardi Azra, Gerakan ISIS Muncul di Indonesia, Yang Rugi Orang islam, Kompas, 8 Agustus 2014 
[7] Bernard Lewis, Krisis Islam, PT Ina Publikatama, Jakarta, 2004 hal. 130 
[8] Ibid, hal. 89
[9] Fernando PM Tambunan, Sejarah dan Ideologi ISIS, Program Pascasarjana UI Jakarta,hal.2 
[10] Disarikan dari buku karya As`ad Said Ali, Al-Qaeda, LP3ES, 2014, hal. 44- 49 
[11] As`ad Said Ali, Al-Qaeda,LP3ES, Jakarta, September 2014, hal 47 
[12] Ibid, hal. 241-252 
[13] Jizyah ialah pajak per kepala yang dipungut oleh pemerintah Islam dari orang-orang yang bukan Islam, sebagai imbangan bagi keamanan diri mereka.

Baca juga

Surga dalam Persepsi Manusia

Oleh: Dra Hj Mursyidah Thahir MA | Ketua III PP Muslimat NU SETIAP umat apapun …

Watch Dragon ball super