Seminar Ormas Keagamaan

Peran Muslimat NU Dibutuhkan dalam Kemajuan Bangsa


SOROTI DISKRIMINASI: Retnoningsih (kanan) menyoroti diskriminasi terhadap perempuan dan anak yang masih terjadi baik di dalam keluarga maupun masyarakat. | Foto: PCMNU Gunungkidul

MNU Online | GUNUNGKIDUL – Dalam suasana bulan suci Ramadhan, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Gunungkidul, Di Yogyakarta menggelar seminar bertajuk “Peran Muslimat NU dalam Kemajuan dan Harmoni Bangsa” di Gerai Oishi Besari, Siraman Wonosari, Gunungkidul, Rabu (14/6).

Hadir sebagai narasumber yakni Saifudin (aktivis PMII), M Arkham Mashudi (Kabid Poldagri dan Ormas) serta Retnoningsih M.MPd (sekretaris PC Muslimat NU Gunungkidul). Acara berlangsung meriah karena diwarnai dialog interaktif.

(Baca: Muslimat NU Gunungkidul Rangkai Harlah dengan Pelantikan PAC)

Dalam pemaparannya, Arkham menyampaikan tugas pemerintah adalah membangun kerukunan. Dia pun mengajak elemen bangsa, termasuk Muslimat NU, untuk menyikapi segala hal yang terjadi di masyarakat dengan bijak, termasuk pemberitaan.

Sebab, menurut Arkham, tidak semua berita yang masuk sudah pasti benar, sehingga harus diklarifikasi agar tidak menimbulkan disharmoni. “Hal itu bisa dimulai dari sendiri dan berlanjut ke masyarakat,” katanya.

Sedangkan Retnoningsih menyoroti diskriminasi terhadap perempuan dan anak yang masih terjadi baik di dalam keluarga maupun masyarakat. Menurutnya, diskriminasi tidak hanya dilakukan laki-laki tapi bisa pula perempuan. “Seorang ibu yang yang membatasi hak anak terkait pendidikan itu juga diskriminasi,” tegasnya.

(Baca: Bupati Gunungkidul Dukung Penuh Langkah Muslimat NU)

Karena itu, menurut Retnoningsih, harus ada penguatan psikologi yang dimulai dari dalam keluarga. “Sekaligus menjaga keutuhan dalam keluarga sehingga tetap dalam jalur yang ‘sehat’,” tandasnya.

Harmoni bangsa, tambah Retnoningsih, juga tak lepas dari keutuhan NKRI. “NKRI sebagai harga mati telah diperjuangan para sesepuh kita dan peran Muslimat NU dibutuhkan untuk membawa kemajuan dan harmoni bangsa. Dan itu semua membutuhkan peran penting para ibu,” paparnya.

Seluruh Bidang


SEMINAR: Peserta seminar duduk lesehan di Gerai Oishi Besari, Siraman Wonosari, Gunungkidul. | Foto: PCMNU Gunungkidul

Sementara Saifudin menuturkan, dalam Islam antara laki-laki dan perempuan sama dan yang membedakan hanya soal ketakwaan. Karena itu, jika ada perenpuan masuk politik diperbolehkan namun tidak diizinkan sebagai penguasa tunggal penentu kebijakan tanpa lewat musyawarah.

(Baca: PCMNU Kulon Progo: Cintai Muslimat NU dengan Lima “S”, Apa Saja?)

“Maka peran Muslimat NU dalam masyarakat harus ada dan menjadi pagar,” katanya. “Di Abassiyyah seorang sultan harus laki-laki, sementara peran perempuan dalam masyarakat dipersilakan.”

Saifudin juga mengajak Muslimat NU masuk ke seluruh bidang, termasuk kesehatan untuk memenuhi cita-cita negara sesuai UUD 1945 tanpa melihat jenis kelamin. “Namun tetap dalam tatanan adat istiadat,” tambahnya.• nur

Baca juga

Muslimat NU Kota Kediri Sambut Antusias Pelatihan Kebencanaan

MNU Online | KEDIRI – 100 anggota Muslimat NU Kota Kediri mengikuti kegiatan Penyebaran Informasi …

Watch Dragon ball super