Perempuan Hadir untuk Menyempurnakan Agama

syekh-afiffuddin-2

Oleh : Maulana Syekh Afifuddin al Jailani

 

ALLAH Swt menempatkan nilai perempuan, para ibu, para istri di posisi yang begitu penting untuk menyempurnakan agama. Bahkan anak perempuan di akhirat nanti insyaallah bisa menjadi hijab (penghalang) kita ke neraka. Saking pentingnya perempuan, seperti disabdakan Rasulullah Saw: Al jannatu tahta aqdamil ummahat (Surga itu berada di bawah telapak kaum ibu).

Karena itu, jika suami, para laki-laki, para bapak dianggap penting karena posisinya sebagai kepala keluarga, maka kaum ibu boleh dibilang VIP (Very Important Person).

Kita bisa ambil contoh Sayyidina Adam As ketika diciptakan Allah sebagai manusia pertama di surga. Ketika sendirian beliau merasa tak bergembira dan bahagia. Lantas Allah menciptakan apa yang diinginkan Adam atas kehadiran seseorang yang bisa membahagiakannya, yakni ibu kita Siti Hawa.

Inilah yang menunjukkan bahwa perempuan itu sangat penting dalam kehidupan ini. Ingat, siapa yang kali pertama beriman kepada Rasulullah Muhammad Saw? Sayyidah Khadijah, subhanallah. Begitu juga dengan Nabi Isa As. Mukjizatnya, antara lain beliau putra Maryam.

Dalam memperingati Isra’ Mi’raj ini perlu saya sampaikan sesuatu yang sangat penting. Ketika Sayyidah Khadijah meninggal, Rasulullah Saw merasa begitu sedih. Hal yang tak pernah beliau rasakan sebelumnya. Sepeninggal Khadijah, beliau merasa telah hilang dari cinta dan mawaddah dari rumahnya.

Saat itu tak ada lagi yang bisa memberikan rasa gembira setelah meninggalnya Khadijah kecuali adanya peristiwa Isra’ Mi’raj. Seakan-akan kasih sayangnya kepada Khadijah diserupakan dengan seluruh isi alam semesta. Inilah hidayah dari Allah bagaimana nilai perempuan begitu penting dan tinggi.

Para ibu, para istri di majelis ini memiliki kelebihan dan kebaikan yang banyak, kenapa? Karena kalian dari Indonesia, negara besar yang bisa membedakan antara agama dan dunia. Moderat di urusan dunia dan agama, alhamdulillah. Inilah contoh yang diperlukan saat ini.

Perlu perjuangan yang besar dari perempuan, seperti yang sudah dilakukan perempuan jaman dahulu sehingga dikatakan setiap laki-laki yang hebat, pemimpin yg besar, pasti ada perempuan hebat pula di belakangnya. Hanya perempuan yang bisa meninggikan derajat laki-laki melebihi derajat laki-laki itu sendiri.

Khusus untuk warga Muslimat NU yang memiliki sekitar 34 juta jamaah di Indonesia, ini luar biasa. Kalau saja ibu-ibu ini mau mendirikan sebuah negara khusus perempuan itu sudah terjadi. Masyaallah, barakallah.

Saya mendegar dan meyakini, insyaallah setiap orang dari Muslimat NU menyamai satu juta orang di Indonesia. Ini semua taufiq dari Allah kepada kalian, ibu-ibu, kaum perempuan. Segala puji bagi Allah. Rasulullah, lewat haditsnya, begitu meninggikan kaum ibu. “Siapa yang berhak untuk dihargai? Ibumu, ibumu, ibumu.. baru bapakmu.”

Sayyidah Khadijah, Aisyah, Fatimah az-Zahra, Umi Kulsum, Rukoyah, Robiah Adawiyah, mereka ini memiliki peran yang sangat besar dalam mendirikan atau dakwah Islam. Kalian ibu-ibu punya posisi yang luar biasa, sungguh istimewa. Dan doa ibu dengan Allah, insyaallah tidak ada hijab.

***

Keberhasilan dan keistimewaan Sayiddina Syekh Abdul Qodir Jailani — yang termasyhur di dunia manusia dan jin — juga tak lepas dari peran seorang ibu.

Alkisah, seorang pemuda kecil dari Baghdad, yakni Abdul Qodir Jailani, ingin keluar dari rumahnya untuk menuntut ilmu. Dia lantas meminta izin kepada ibunya dan diperbolehkan dengan satu syarat, “Berjanjilah padaku untuk selalu jujur. Jangan sekali-kali berbohong pada siapapun,” kata ibunya. Seperti firman Allah Swt: Wahai orang-orang yang beriman, bersamalah dengan orang-orang yang jujur.

Di tengah perjalanan, ketika Abdul Qodir hendak menuntut ilmu, dia dicegat gerombolan penyamun untuk meminta harta bawaannya. Pemimpin penyamun yang tinggi besar dan seram mendatangi Abdul Qodir dan bertanya, “Apakah kamu punya sesuatu?”

“Ya, saya punya uang di sini,” kata Abdul Qodir sambil menunjukkan uang di kantong yang dijahit secara khusus oleh ibunya.

Kepala penyamun itu geram dan menyangka anak ini mempermainkannya, “Kenapa kamu mempermainkan kami dengan memberi tahu di saku itu ada uang?” katanya.

“Tidak, saya tidak sedang mempermainkan kamu, wahai penyamun?” sergah Abdul Qodir, sambil mengambil uang di saku.

Kepala penyamun tersebut semakin heran, “Kenapa kamu mengatakan dengan jujur? Bukankah kamu bisa menyimpannya dan berbohong padaku?”
“Aku melakukan itu karena aku sudah berjanji pada ibuku untuk tak pernah sekali-kali berbohong,” jawab Abdul Qodir.

“Ibumu tak ada di sini dan tidak tahu kalau kamu berbohong?” tanya kepala penyamun. “Ibuku memang tak di sini, tapi dia minta janjiku itu di hadapan Allah dan Allah pasti mengetahui itu,” kata Abdul Qodir.

Setelah itu pimpinan penyamun dan anggotanya bertaubat dari segala perbuatan tercela, subhanallah. Dikisahkan, mereka inilah murid-murid pertama Syekh Abdul Qodir Jailani. Buah kejujuran yang dijanjikan kepada ibunya.

Kisah ini mengilhami kita. Terpenting dari itu semua bahwa ibu-ibulah yang bisa menanamkan nilai-nilai luhur kepada penerusnya.

Kisah inspiratif lainnya, ada seorang guru di madrasah bertanya pada anak didiknya, apa yang engkau cita-citakan di masa yang akan datang? Pertanyaan yang sama juga pernah ketika alami saat masih di madrasah.

Para murid menjawab beragam. Ada yang ingin menjadi dokter, insinyur hingga lawyer. Namun ada seorang anak yang memiliki jawaban berbeda: ingin menjadi seperti sahabat Rasulullah Saw. Sang guru kemudian memanggil dan menanyai anak tersebut, “Kenapa ingin menjadi seperti sahabat nabi?”

“Karena ibuku selalu menceritakan soal sahabat nabi sebelum aku tidur,” jawab si anak.

Lihatlah, begitu besar peran seorang ibu. Dan kita, kaum laki-laki, tak akan jujur kecuali dengan keberadan orang-orang yang jujur, yakni perempuan, para ibu, para istri dan saudara-saudara perempuan kita. ♦

* Disarikan dari taushiyah saat peringatan Isra’ Mi’raj dan Rajabiyyah di kediaman Ketua Umum PP Muslimat NU, Khofifah Indar Parawansa, 3 Mei 2016.

Baca juga

Surga dalam Persepsi Manusia

Oleh: Dra Hj Mursyidah Thahir MA | Ketua III PP Muslimat NU SETIAP umat apapun …

Watch Dragon ball super