Perempuan Tak Lagi Tabu di Wilayah Publik

MNU Online | SEMARANG – Kelahiran organisasi Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) pada 1938 menjadi tonggak sejarah, dimana kaum perempuan saat itu telah memiliki kesadaran akan peran sosialnya di dalam keluarga maupun masyarakat.

Sebelum Indonesia merdeka pada 1945, kesadaran perempuan atas peran sosial di tengah masyarakat hingga kini telah terbukti. Dari ribuan anggota Muslimat yang menyebar di Indonesia, tidak sedikit yang memiliki gelar akademis tertinggi, yakni profesor.

”Perempuan sekarang ini tidak bisa dianggap tabu untuk berperan di wilayah publik meski masih banyak yang hanya memiliki peran domestik,” tutur Dr KH Muhammad Arja’ Imroni, saat memberikan tausiah dalam acara Pengajian Umum dalam rangka Hari Lahir (Harlah) Ke-66 Muslimat di Aula Masjid Agung Jawa Tengah, Minggu (1/4) pagi.

“Dengan adanya Ikatan Haji Muslimat, Himpunan Daiyah Muslimat, Yayasan Kesejahteraan Muslimat, Yayasan Pendidikan Muslimat, Ikatan Guru TK Muslimat, peran sosial perempuan di tengah publik itu sangat nyata. Karena, ibu atau perempuan, memiliki peran sentral juga dalam pendidikan dan kehidupan generasi atau anak,” tambahnya.

Bahkan, kata Sekretaris PWNU Jawa Tengah itu, kaum perempuan atau ibu sudah dielu-elukan oleh Nabi Muhammad Saw.  Hadir dalam kesempatan itu, Wakil Katib PCNU Kota Semarang Abidin Ibnu Rusyd MAg, Dra H Fatimah Usman MSi dan sekitar 1000-an anggota Muslimat NU se-Kota Semarang.

Ketua PC Muslimat NU Kota Semarang Hanifah Syarifuddin menjelaskan, acara pengajian itu merupakan puncak acara Harlah Muslimat NU. Sebelum pengajian, Pengurus Wilayah Muslimat NU Jawa Tengah berkesempatan melantik Pengurus Ikatan Haji Muslimat, Himpunan Daiyah Muslimat, Yayasan Kesejahteraan Muslimat, Yayasan Pendidikan Muslimat, Ikatan Guru TK Muslimat. ♦ sm/mil

Baca juga

Muslimat NU Kota Kediri Sambut Antusias Pelatihan Kebencanaan

MNU Online | KEDIRI – 100 anggota Muslimat NU Kota Kediri mengikuti kegiatan Penyebaran Informasi …

Watch Dragon ball super