Konferwil Pergunu

Pergunu Wajib Bangun Militansi NU dan Pejuang Aswaja


TANAMKAN MILITANSI NU: Ketum Nyai Hj Khofifah IP, para guru NU perlu menanamkan militansi NU dan pejuang Aswaja. | Foto: MNU Online

MNU Online | MOJOKERTO – Mencari SDM NU yang lahir batin tidaklah mudah. Sebab, banyak SDM mumpuni di negeri ini yang sebenarnya berlatar belakang NU tapi sedikit sekali yang dengan gagah berani mengakui bahwa dirinya NU.

Bahkan, keengganan mengaku dari NU sudah diawali sejak masuk ke Perguruan Tinggi (PT). Lantas, apa sebenarnya yang membuat mereka tak cukup percaya diri menyebut dirinya NU dan pejuang Aswaja (Ahlussunnah wal Jamaah)?

“Karena gurunya tidak menanamkan militansi NU, bahwa ber-NU itu tak hanya beragamanya tapi juga bernegaranya yang benar,” kata Ketua Umum PP Muslimat NU, Dra Nyai Hj Khofifah Indar Parawansa MSi saat membuka Konferensi Wilayah (Konferwil) Pergunu Jawa Timur di Institut Abdul Chalim, kompleks Ponpes Amanatul Ummah, Pacet, Mojokerto, Sabtu (5/8).

Akibatnya, kata Khofifah, setelah menjadi dosen dan para tutor, misalnya, yang sebenarnya mereka ini dari NU tapi enggan menyebut dirinya NU. “Saya melihat ada sesuatu yang putus dari proses perjalanan para profesional NU,” katanya.

(Baca: Syi’arkan Peran Guru NU, Khofifah: Pergunu Butuh Storyteller)

Khofifah mencontohkan, di era Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ada seorang menteri menyampaikan kalau kakeknya menjabat rais syuriah. “Jadi orang itu sibuk merunut nasabnya bahwa ada pamannya, ibunya yang NU. Tapi mohon maaf, saya bilang bapak sendiri gimana (NU apa tidak)?” katanya yang disambut aplaus peserta Konferwil.

Karena itu, tegas Khofifah, betapa penting membangun militansi anak didik yang berani mengatakan dirinya NU, pejuang Aswaja, sehingga akan terbangun proses tawasuth, i’tidal, tasamuh maupun tawazun yang berseiring dengan tugas-tugas pengawalan NKRI.

Sebab, peran besar anak-anak NU sangat dibutuhkan untuk mengawal NKRI dan itu harus ditanamkan para guru NU. Apalagi radikalisme sudah masuk ke sendi-sendi para pelajar SMP dan SMA.

Radikalisme Sasar Remaja


PARA GURU NU: Konferwil Pergunu Jatim di Institut Abdul Chalim, Mojokerto, dibuka Ketum PPMNU yang juga Mensos RI, Nyai Hj Khofifah IP. | Foto: MNU Online

Khofifah kemudian mengungkap hasil survei dari sejumlah lembaga. Ternyata anak-anak muda di Indonesia yang setuju kalau NKRI diganti dengan sistem khilafah, hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menyebut 9,2 persen. Sedangkan The Wahid Institute memunculkan persentase 7,4 untuk mereka yang setuju penggunaan kekerasan.

“Jadi tinggi ini. Kalau 9,2 persen dari jumlah penddukan Indonesia ini sudah melebihi penduduk Malaysia,” katanya.

(Baca: Update Ilmu Koperasi, Muslimat NU Pamekasan Studi Banding ke Malang)

“Kelabakan-lah negara ini kalau seperti survei-nya Wahid Institute, SMRC, UIN, Kemenag, Setara  Institute, sudah lima lembaga ini. SMP-SMA lho sudah bersetuju engan kekerasan, radikalisme.”

Jadi, lanjut Khofifah, betapa Pergunu harus berseiring dengan tugas-tugas pengawalan NKRI dan hal itu harus dikabarkan, ditulis kalau sekolah dan pesantren NU melahirkan anak didik yang pintar dan benar.

“Kalau cuma sekolah ya pinter di bidangnya, tapi belum tentu bener beragama dan bernegaranya. Tapi ini harus ada yang menulis, ada yang terus bercerita  dan menyampaikan (memviralkan),” katanya.• nur

Baca juga

PENGUATAN MAJELIS TAKLIM: Workshop Bidang Ekonomi dan Koperasi Muslimat NU di Gedung PBNU, Rabu (7/11). | Foto: MNU Online

Hindari Rentenir, Muslimat NU Perkuat Majelis Taklim dengan Koperasi

MNU Online | JAKARTA – Induk Koperasi An-Nisa (Inkopan) Muslimat NU akan membantu membuatkan koperasi …

Watch Dragon ball super