Peresmian Masjid As-Shofiyah

PR Kalangan Pesantren: Luruskan Orang Terdidik Miskin Akidah


KEIBUAN: Khofifah Indar Parawansa menyapa hangat penuh keibuan santriwati Ponpes Modern Al Fatimah Bojonegoro. | Foto: MNU Online

MNU Online | BOJONEGORO – Banyak PR yang perlu dikerjakan kalangan pondok pesantren (Ponpes). Salah satunya meluruskan orang-orang terdidik yang bermasalah dengan akidah.

“Kasus Gafatar hingga membangun bisakhawati aghniya’, misalnya, ini menjadi bagian dari tugas alumni pesantren untuk meluruskan,” kata Ketua Umum PP Muslimat NU yang juga Mensos RI, Dra Hj Khofifah Indar Parawansa MSi di sela meresmikan Masjid As-Shofiyah Ponpes Modern Al Fatimah Bojonegoro yang dirangkai dengan Haflah Maulidiyah X, Minggu (5/3) malam.

Terkait membangun bisakhawati aghniya’ (kemurahan hati orang kaya), Khofifah mencontohkan dari potensi zakat umat Islam di Indonesia sebesar Rp 216 triliun, menurut Badan Amil Zakat Nasional (Naznas), baru efektif Rp 2,6 triliun.

“Ini baru dari zakat, rupanya jomplangnya (timpang) setengah mati. Karena itu pertemuan-pertemuan di antara muzakki (orang yang mengeluarkan zakat) menjadi penting, sebab potensi yang luar biasa ini sering kali jomplang pada tingkat implementasi,” paparnya.

(Baca: Biar Hati Tak Kotor, Bersihkan dengan Minal Masjid Ilal Masjid)

Begitu pula dengan problem Gafatar. Khofifah menuturkan pengalamannya ketika mendatangi beberapa titik Gafatar, ternyata para pimpinannya orang-orang terdidik.

“Pimpinannya bagus-bagus bahasa Inggrisnya, juga bahasa Arabnya. Dalam komunikasi dan interaksi mereka sering menggunakan bahasa Inggris,” katanya.

“Artinya mereka orang terdidik. Mereka bisa membuat our plan sendiri, listrik bikin sendiri, membuat sektor agro untuk bahan pangan sendiri, menyiapkan guru-guru dan dokter di tengah pemukiman.”

Tapi kemudian yang dilihat Khofifah, pada saat yang sama mereka bermasalah dalam akidah. Mereka mempercayai sekaligus mengajarkan bahwa Rasulullah Muhammad Saw khatamul mursalin tapi bukan khatamul anbiya.


KELUARGA PESANTREN: Ditemani pengurus PC Muslimat NU Bojonegoro, Khofifah menghadiri Haflah Maulidiyah X Ponpes Modern Al Fatimah dan meresmikan Masjid As-Shofiyah. | Foto: MNU Online

Itulah yang menjadikan mereka masih meniscayakan boleh mengaku menjadi nabi, karena sesungguhnya Rasulullah Saw itu bukan nabi terakhir.

“Nah, siapa lagi yang meluruskan hal-hal seperti ini kalau bukan pesantren, alumni pesantren, termasuk alumni Al Fatimah. Jadi PR pesantren ini banyak,” paparnya.

(Baca: Patut Direnungkan: Potensi Zakat Rp 216 T, Baru Terkumpul Rp 2,6 T)

Karena itu Khofifah bersyukur di Ponpes disiapkan bibit-bibit berkualitas untuk bisa menjadi peneguhan eksistensi bangsa di dalam maupun luar negeri.

Khofifah juga bertemu deportan dari Turki. Dari 112 orang, 52 di antaranya anak-anak yang sudah diajarkan ke Turki dengan tujuan Suriah dan niatnya ‘berjihad’.

Karena itu, guru agama maupun guru ngaji perlu mendapat penguatan dari masyayikh dan kiai, sebab merekalah yang bertugas melakukan penetrasi. Mereka bisa sampaikan ayat Al Quran: Wajahidu fisabilillahi bi amwalikum wa anfusikum.

“Format seperti ini bagaimana kita bisa mengedepankan jihad bil mal, karena dakwah kita masih dominan dakwah bil lisan. Dakwah bil lisan ini begitu kuatnya, baru kemudian dakwah bil hal, sementara dakwah bil mal masih begitu kering,” katanya.• nur

Baca juga

BERPULANG: Nyai Hj Aisyah Hamid Baidlowi binti KH Abdul Wahid Hasyim wafat) di Jakarta, Kamis (8/3). | Foto: NU Online

Nyai Aisyah Hamid Baidlowi, Mantan Ketum PP Muslimat NU Wafat

MNU Online | JAKARTA – Tepat di Hari Perempuan Internasional, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat …

Watch Dragon ball super