Puasa dan Kesalehan Sosial

Oleh : Khofifah Indar Parawansa

IBADAH puasa Ramadhan tidak hanya bersifat vertikal (hablum minallah) saja, tapi juga horizontal (hablum minannas). Maka ibadah puasa sesungguhnya memiliki keterkaitan erat dengan persoalan kepedulian sosial, kemiskinan ummat sekaligus upaya mencari solusinya.

Secara terminologis, puasa berarti menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal lain yang membatalkan puasa, dari terbit fajar hingga matahari terbenam. Namun, keberhasilan menjalankan ibadah puasa tidak hanya dilihat dari kemampuan menahan lapar dan dahaga saja, melainkan juga kepekaan dan kepedulian antar sesama.

Puasa menjadi instrumen  muhasabah, introspeksi, dan ajang perenungan bersama yang diikuti dengan perbuatan nyata lewat sedekah, infaq, maupun zakat. Jika puasa hanya diletakkan seperti definisi di atas, maka ibadah puasa yang kita jalankan telah menanggalkan pemaknaannya yang berdimensi sosial.

Inti dari pelaksanaan puasa adalah membentuk pribadi yang yang bertaqwa (muttaqin). Siapa Muttaqin itu ? yaitu : ” orang-orang yang menafkahkan hartanya, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang. ……(Q.S. Ali Imron : 134), sementara kategori Muttaqin dalam Surat Al-Baqarah ayat  3 antara lain ……“Wamimmaa razaqnaahum yunfiquun” yang artinya : Dan menafkahkan sebagian rizki yang kami anugerahkan kepada mereka.

Ayat ini mengingatkan bahwa kesalehan spiritual belum dikatakan sempurna, sebelum dibarengi dengan kesalehan sosial. Artinya, puasa juga melatih kepekaan terhadap realitas sosial atau to be sensitive to the reality. Karena itulah, setelah menjalankan ibadah puasa, pada akhir Ramadhan ditutup dengan mengeluarkan zakat, yaitu zakat Fitrah. Zakat sendiri merupakan ibadah kemanusiaan yang bisa melahirkan rasa simpati dan empati kepada yang miskin, lapar, dan orang-orang yang dimarginalkan secara ekonomi.

Jika orang yang diberi kecukupan ekonomi mau peduli terhadap yang miskin, pasti perempuan Indonesia tidak akan berbondong-bondong menjadi TKW PRT di negeri orang.”

Terkait itu, menurut Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), potensi zakat di Indonesia mencapai 216 triliun, tetapi yang aktual melalui berbagai lembaga amil zakat, baru mencapai 1,5 triliun.  Dari data itu dapat diketahui, bahwa potensi zakat di Indonesia sebenarnya cukup besar, namun karena kesadaran zakat masyarakat yang masih rendah, potensi itu belum tergarap secara maksimal. Padahal, jika saja kesadaran berzakat masyarakat cukup tinggi, tentu sebagian masalah kemiskinan di negeri ini bisa teratasi.

Disahkannya Undang-Undang (UU) No 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat di Indonesia (berlaku pada 13 Oktober 1999) pantas disyukuri. Undang-Undang ini diharapkan memberikan implikasi positif perzakatan di Indonesia.

Selain Itu, ada juga Peraturan Pemerintah Nomor 60 tahun 2010 yang menyatakan bahwa  zakat atau sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib , dapat dikurangkan dari penghasilan bruto. Dalam peraturan pemerintah ini disebutkan, bahwa siapa saja yang zakat melalui lembaga amil zakat akan dikurangkan kewajiban pajaknya.

Saatnya kita berbagi di ramadhan yang penuh kemulian ini. Jika orang yang diberi kecukupan ekonomi mau peduli terhadap yang miskin, pasti perempuan Indonesia tidak akan berbondong-bondong menjadi TKW PRT dinegeri orang. Jika orang kaya di negeri ini mau membantu yang lemah, tentu tidak banyak anak negeri ini yang putus sekolah. Dan, jika saja yang berada di negeri ini mau membantu yang fakir, tentu tidak banyak anak-anak jalanan.

Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya kefakiran (kemiskinan) itu bisa menjerumuskan ke jurang kekafiran.” Maka tidaklah mengherankan bila kemudian banyak cerita seputar orang yang keimanannya tergadaikan akibat  kemiskinan. ♦

 

Baca juga

Surga dalam Persepsi Manusia

Oleh: Dra Hj Mursyidah Thahir MA | Ketua III PP Muslimat NU SETIAP umat apapun …

Watch Dragon ball super