Home » WARTA »


Raih ISO dan Rekor MURI, Siap Kembangkan Klinik Hemodialis di Berbagai Daerah

1-m-nuRumah dua lantai di Jalan Hang Tuah I No. 12 Kebayoran Baru Jakarta Selatan, Ahad (10/1/2015) siang itu semakin ramai dikunjungi para juru warta. Selain kehadiran Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin, penyerahan International Organization for Standardization (ISO) 9001:2008 dari United Registar of System (URS) dan penghargaan Museum Rekor Indonesia (MURI) bagi Klinik Hemodialisis Muslimat NU Cipta Husada (KMHCH) menjadi magnet liputan.

KMHCH adalah satu dari ratusan klinik yang dikembangkan Yayasan Kesejahteraan Muslimat Nahdlatul Ulama (YKMNU). KMHCH dikelola atas kerjasama PP Muslimat NU yang dipimpin Khofifah Indar Parawansa bersama PT Masa Cipta Husada. Ahad siang itu, KHCH menerima ISO sebagai Klinik berkualitas internasional dengan pelayanan terapi terbaik. Di saat yang sama, pelayanan berkualitas itu diberikan dengan cuma-cuma bagi para penderita gagal ginjal dari kalangan ekonomi bawah, penerima BPJS. Hingga saat ini, KMHCH telah melayani 70.000 dialis dengan standar mutu terbaik.

Mahalnya terapi hemodialisa atau cuci darah, menjadi kendala bagi ratusan ribu pasien gagal ginjal di Indonesia. Kondisi ini melahirkan keprihatinan tersendiri bagi para ibu di Yayasan Kesejahteraan Muslimat Nahdlatul Ulama (YKMNU). Maka, sejak 28 Maret tahun 2008 silam, YKMNU menyediakan layanan cuci darah murah, bahkan gratis –bagi pasien tertentu- di Klinik Bersalin Muslimat NU, yang beroperasi sejak tahun 1966, di Jalan Hang Tuah I No. 12 Kebayoran Baru Jakarta Selatan.

Seiring waktu berjalan, YKMNU menjalin kerjasama dengan PT Masa Cipta Husada untuk meningkatkan layanan hemodialisis. Pada 29 Mei 2008, Mantan Presiden K.H Abdurrahman Wahid (Gus Dur) meresmikan  Klinik Hemodialisis Muslimat NU Cipta Husada (KMHCH) di rumah bersalin peninggalan wakaf K.H Saifuddin Zuhri tersebut. “Klinik ini mulanya dibangun untuk memanfaatkan tanah wakaf dari KH Syaifuddin Zuhri. Banyak Ibu-ibu sekitar Kebayoran kita bantu melahirkan di sini, karena memang sejak awal pelayanan kita diniatkan untuk membantu masyarakat kecil. Dengan biaya murah, bahkan pada kondisi tertentu gratis, namun pelayanan harus tetap berkualitas,” papar Ketua YKMNU Ny. Farida Salahuddin Wahid.

Banyaknya penderita gagal ginjal di Indonesia, diakui  Perhimpunan Nefrolog (ahli gagal ginjal dan hipertensi) Indonesia atau Pernefri. Tahun 2013, Pernefri merilis laporan, bahwa setiap tahun terdapat 200.000 kasus baru gagal ginjal. 150.000 orang di antaranya membutuhkan terapi cuci darah rutin. Sementara hingga saat ini, baru 100.000 pasien yang mendapat pelayanan terapi dialisis.

Kondisi tersebut menurut Farida menjadi keprihatinan tersendiri bagi para ibu di Muslimat NU. Terlebih, banyak penderita gagal ginjal di negeri ini berasal dari kalangan masyarakat ekonomi bawah. Kemudian, Muslimat NU, di bawah pimpinan Khofifah Indar Parawansa, menunjuk YKMNU untuk menyediakan  layanan terapi dialisis di salah satu klinik bersalinnya, yang saat itu berjumlah 57 klinik di seluruh Indonesia.

 

Kiprah Muslimat NU Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat Semakin Diakui

Kemudian dipilihlah Klinik Bersalin peninggalan K.H Saifuddin Zuhri tersebut, sebagai tempat terapi dialis bagi masyarakat. Muslimat NU, kata Farida, selain berkiprah di dunia pendidikan anak usia dini, kaderisasi bagi kaum ibu Nahdliyin, juga bergerak di wilayah sosial dengan mendirikan ratusan koperasi dan klinik kesehatan di seluruh Indonesia.

“Awalnya, klinik ini memiliki 7 mesin model terbaru dengan merek Gambro yang memiliki kualitas tinggi. Alhamdulillah, saat ini KMHCH memiliki 21 mesin cuci darah, dengan lima orang dokter dan sebelas perawat di KHCH I dan tahun 2012, Muslimat NU kemudian membuka KMHCH II, di Jalan Langit 12, Kampung Ambon, Jakarta Timur,” paparnya.

Farida bersyukur, komitmen ibu-ibu Muslimat NU dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat, mendapat perhatian dari sejumlah pihak. Peralihan klinik bersalin menjadi klinik hemodialis tersebut, juga berdasarkan sejumlah pertimbangan. Selain meningkatnya jumlah pasien gagal ginjal, di saat yang sama, jumlah ibu-ibu bersalin juga berkurang. Hal itu juga tak lepas dari program penyuluhan KB yang diselenggarakan Muslimat bersama Dinas Kesehatan setempat.

“Alih fungsi klinik bersalin menjadi klinik hemodialisis membutuhkan biaya yang tinggi. Namun Al-hamdulillah, Muslimat kemudian bertemu PT Masa Cipta Husada yang berkenan membantu penyediaan fasilitas alat kesehatan. Setelah terjalin kesepakatan kerjasama, nama klinik bersalin pun berubah menjadi Klinik Hemodialis Muslimat NU Cipta Husada atau KHMHCH,” paparnya.

Farida, dalam sambutannya sebagai Ketua YKMNU, sekaligus mewakili Ketua Umum PP Muslimat NU, Khofifah Indar Parawansa yang berhalangan hadir karna sedang melaksanakan kunjungan kerja Kementerian Sosial di Surabaya, juga menyampaikan terimakasih kepada berbagai pihak yang telah menjalin kerjasama dengan Muslimat NU.

“Dalam hal ini, kami siap membuka kerjasama dengan berbagai pihak untuk mengembangkan klinik hemodialis, KHMHCH di berbagai daerah lain di Indonesia,” tandasnya.

Selain dihadiri Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin dan para pengurus PP Muslimat NU, salah satu pendiri KMHCH, yang juga adik kandung Gus Dur, Dr. Umar Wahid. Sebagai keturunan dari muasis NU, Umar mengaku bangga dengan prestasi Muslimat NU tersebut.

“Yang paling membanggakan, Klinik cuci darah Muslimat NU ini adalah klinik pertama di Indonesia yang menerapkan sistem ISO, sekaligus klinik yang memberi pelayanan terbanyak bagi penderita gagal ginjal. Artinya, Muslimat NU berhasil melayani masyarakat kelas ekonomi bawah tanpa mengurangi pelayanan terbaiknya,” tandas Umar Wahid.

Penghargaan MURI dan pengakuan ISO tersebut, diharapkan Umar, menjadi motivasi bagi Muslimat NU dan seluruh kader NU di berbagai bidang untuk menunjukkan karya terbaiknya bagi masyarakat.

Sementara Menteri Agama yang hadir atasnama keluarga K.H. Saifuddin Zuhri, yang mewakafkan rumah dan tanahnya untuk Muslimat NU pada tahun 1966, juga mengaku bersyukur. Wakaf yang ditinggalkan ayahnya tersebut, menjadi sangat bermanfaat saat dikelola Muslimat NU.

“Menurut saya, Muslimat adalah Ormas perempuan terbesar di Indonesia, bahkan di dunia yang memiliki program nyata bagi masyarakat,” ungkapnya, seraya berharap, Muslimat NU di bawah kepemimpinan Khofifah Indar Parawansa, yang kini menjabat Menteri Sosial bisa semakin meningkatkan kiprahnya di tengah masyarakat.

Lukman pun berseloroh, bahwa ibunya adalah aktivis Muslimat NU, sehingga ia meskipun lelaki, juga merupakan bagian dari Muslimat NU, sejak sebelum lahir.

Baca juga

BERPULANG: Nyai Hj Aisyah Hamid Baidlowi binti KH Abdul Wahid Hasyim wafat) di Jakarta, Kamis (8/3). | Foto: NU Online

Nyai Aisyah Hamid Baidlowi, Mantan Ketum PP Muslimat NU Wafat

MNU Online | JAKARTA – Tepat di Hari Perempuan Internasional, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat …

Watch Dragon ball super