Kongres XVII Muslimat NU

Rais Aam PBNU: Muslimat NU Banom Paling Banyak Amal Sosialnya

 <br /> REAKSI GEMBIRA: Reaksi Nyai Hj Machfudhoh Aly Ubaid saat Khofifah mendapat ucapan selamat dari Rais Aam PBNU, KH Ma’ruf Amin. | Foto: MNU Online

REAKSI SUKA CITA: Reaksi Nyai Hj Machfudhoh Aly Ubaid saat Khofifah mendapat ucapan selamat dari Rais Aam PBNU, KH Ma’ruf Amin. | Foto: MNU Online

MNU Online | JAKARTA – Berulang kali Nyai Hj Machfudhoh Aly Ubaid mengacungkan dua jempolnya, sesekali bertepuk tangan tanda memberi apresiasi. Sementara Khofifah Indar Parawansa menutup wajahnya dalam-dalam wujud syukur.

Moment itu terjadi saat Rais Aam PBNU, KH Ma’ruf Amin memberi ucapan selamat kepada Khofifah yang terpilih secara aklamasi sebagai ketua umum Muslimat NU masa khidmat 2016-2021 dalam kongres ke-17.

“Saya ingin menyampaikan selamat atas suksesnya Kongres ke-17 Muslimat NU. Selamat atas terpilihnya kembali Ibu Hj Khofifah sebagai ketua umum,” katanya yang disambut aplaus peserta kongres.

Muslimat NU, kata Kiai Ma’ruf, merupakan Banom (badan otonom) tertua, terbanyak anggotanya dan terbanyak amal sosialnya. “Dan saya kira paling berpengaruh dalam Nahdlatul Ulama,” katanya.

(Baca: Aklamasi! Khofifah Kembali Pimpin Muslimat NU)

Mengapa begitu? Sebab, lanjut Kiai Ma’ruf, banyak pengurus Muslimat NU yang menjadi istri pengurus NU. “Dan ada juga peran ibunya NU, karena itu jangan main-main sama Muslimat NU,” tandasnya.

Saya ingin menyampaikan selamat atas suksesnya Kongres ke-17 Muslimat NU. Selamat atas terpilihnya kembali Ibu Hj Khofifah sebagai ketua umum.”

Pernyataan Kiai Ma’ruf ini sekaligus menjadi jawaban atas beragam spekulasi yang berkembang sebelum kongres digelar terkait periodesasi kepemimpinan Banom.

“Kebetulan ada aturan di Banom itu dua periode. Tapi karena desakan dan kekompakan anggota Muslimat NU dari seluruh cabang dan wilayah, maka ‘terpaksa’ NU harus menerima itu. Tidak bisa tidak!” jelasnya.

“Ada hukum ashal, ada hukum istishna’. Hukum ashal itu aslinya begini, sedangkan hukum istishna’ itu hukum pengecualian (exception). Dan untuk Muslimat NU berlaku hukum istishna’.”

Tiga Tanggung Jawab NU

 UCAPAN SELAMAT: Rais Aam PBNU KH Ma'ruf Amin, selamat atas terpilihnya kembali Ibu Hj Khofifah sebagai ketua umum | Foto: MNU Online

UCAPAN SELAMAT: Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin, selamat atas terpilihnya kembali Ibu Hj Khofifah sebagai ketua umum | Foto: MNU Online

Kiai Ma’ruf, dalam taushiyahnya menyampaikan tiga mas’uliyah nahdliyah, tanggung jawab Nahdlatul Ulama alias ke-NU-an yang juga menjadi tanggung jawab ke-Muslimat-an.

Pertama, katanya, mas’uliyah diniyah islamiyah (tanggung jawab keagamaan Islam). “Kenapa? Karena NU adalah jamiyah diniyah islamiyah, maka tanggung jawabnya adalah diniyah islamiyah ala thoriqoti ahlussunah wal jamaah annahdliyah,” katanya.

Penambahan kata annahdliyah, terang Kiai Ma’ruf, karena bayak yang mengklaim ahlussunah wal jamaah tapi amaliyahnya beda dengan NU.

(Baca: Kongres Ditutup Wapres, Rais Aam PBNU Beri Ucapan Selamat untuk Khofifah)

Dia mencontohkan Wahabi yang ngaku ahlussunah wal jamaah padahal al wahabiyah, bukan annahdliyah. Begitu juga dengan ISIS, mengaku ahlussunah wal jamaah tapi sebenarnya al-ISIS-iyah.

“Tapi ada ISIS yang sangat disukai ibu-ibu, yakni Ikatan Suami Istri Satu,” selorohnya yang disambut ger-geran ibu-ibu Muslimat NU.

Tanggung jawab mas’uliyah diniyah islamiyah, kata Kiai Ma’ruf bukan saja rahmatan lil indonesiyin tapi juga lil alamin. Tak hanya rahmat untuk Indonesia tapi seluruh dunia,  rahmat bagi seluruh alam.

Kedua, menjaga umat dari akidah yang rusak, cara berpikir liberal, gerakan ekstrem yang memaksakan kehendak sampai upaya penerapan khilafah di Indonesia.

“Jangan jadi kelompok ekstrem tapi jangan juga jadi kelompok loyo. Kalau Muslimat NU beda, semangatnya luar bisa,” katanya.

(Baca: Ketum PBNU Persilakan Khofifah Kembali Pimpin Muslimat NU)

Ketiga, lanjut Kiai Ma’ruf, mas’uliyah wathaniyah (tanggung jawab kebangsaan). NU lahir sebelum Indonesia karena itu Nahdliyin punya tanggung jawab untuk berjuang, membangun dan mempertahankan kemerdekaan.

Lewat KH Abdul Wahid Hasyim, NU ikut menyusun prinsip-prinsip kebangsaan dan kenegaraan Indonesia.

“NU wajib menjaga dari berbagai upaya yang ingin merusak, menghancurkan maupun mengubah negara ini. Baik itu dari kelompok ekstrem kanan maupun kiri. NU harus menjaga bagaimana negara ini tetap damai, rukun dan sejahtera,” tuntasnya.• nur

Baca juga

KAJIAN KEISLAMAN: Hidmat MNU menggelar tahlil dan mudzakaroh dengan tema TPPO di Kantor Baru PP Muslimat NU, Jakarta Selatan, Minggu (14/1) malam. | Foto: MNU Online

Hidmat MNU Kaji TPPO dari Sudut Pandang Islam

MNU Online | JAKARTA – Persoalan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) menjadi perhatian serius Himpunan …

Watch Dragon ball super