Wawancara Khusus Ketum PP Muslimat NU (1)

Rajin Turun ke Bawah, Tidur Empat Jam Terasa Mewah

 AKRAB DENGAN WARTAWAN: Khofifah IP saat menerima wartawan Majalah Gatra untuk wawancara khusus. | Foto: MNU Online

AKRAB DENGAN WARTAWAN: Khofifah IP saat menerima wartawan Majalah Gatra untuk wawancara khusus. | Foto: MNU Online

MNU Online | JAKARTA – Jam di tangan menunjuk pukul 23.15 WIB, Minggu, 27 November 2016 di salah satu rumah di Jalan Widya Chandra, Jakarta Selatan.

Sebenarnya terlalu larut bagi penghuni rumah untuk menerima tamu. Terlebih energi dan pikirannya cukup ‘terkuras’ usai Kongres XVII Muslimat NU. Belum lagi esok harinya harus menjalani rutinitas tugas negara.

Tapi Dra Hj Khofifah Indar Parawasa M.Si sudah terbiasa menerima tamu atau melayani wawancara wartawan hingga larut di tengah kesibukannya sebagai Menteri Sosial RI maupun Ketum PP Muslimat NU. Bahkan bisa tidur hanya empat jam sehari sudah terasa mewah.

Bagi wartawan, malam itu ‘memburu’ Khofifah menjadi istimewa karena untuk kali keempat dia terpilih sebagai Ketum PP Muslimat NU sekaligus menjadi “mutiara” Nahdlatul Ulama yang bersinar di Kabinet Kerja — merujuk pidato Presiden Joko Widodo saat membuka Kongres XVII yang banyak memuji kinerja Khofifah.

Apa ‘resep’ dan ikhtiar yang dijalankan Khofifah sehingga tugas layanan keumatan dan negara bisa dijalankan sama suksesnya? Berikut MNU Online menurunkan serial wawancara khusus dengan perempuan yang gemar blusukan tersebut:

Anda dikenal sebagai tokoh sekaligus pemimpin yang rajin turun ke bawah. Sampai-sampai almarhum Gus Dur maupun KH Hasyim Muzadi memelesetkan nama belakang anda dari Parawansa menjadi Pariwisata..
Ha.. ha.. Ya, sejak di Surabaya saya memang hobi konsolidasi. Ketika saya ketua IPPNU (Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama) setiap minggu kelilingi, waktu itu hanya ada 16 kecamatan (sekarang 31 kecamatan) dan setiap empat bulan kecamatan itu akan saya datangi lagi karena saya memang muter begitu.

Bagi anda apa makna konsolidasi?
Itu sangat penting supaya format keormasan ini jejek. Makna jejek itu warga Muslimat NU sampai pada titik dia akan bilang: Saya bangga menjadi warga Muslimat NU.

Sangat banyak pengajian di Jawa Timur, Jawa Tengah maupun Jawa Barat dan setiap pengajian mereka bilangnya “Muslimatan”, bukan pengajian. Jadi sampai segitu kuatnya brand Muslimat NU di hati mereka. Itu berarti Muslimat NU sudah masuk top of mind.

Karena itu rajin turun ke bawah, rajin menyapa menjadi penting dan sesuatu yang bisa dirasakan manfaatnya.

Apa konsolidasinya tidak terlalu jauh sampai Ketum harus turun langsung hingga ke cabang bahkan ranting?
Begini. Awal saya di kepengurusan itu pada 2001, 2000 akhir saya masuk. Ketika saya rajin mendatangi harlah di cabang, banyak pengurus pusat yang juga mengingatkan saya kenapa PP (pusat) mesti datang, bukannya cukup PW (wilayah).

Saya bilang mereka itu saya SK dan di dalam SK mereka setiap tiga bulan punya kewajiban melapor secara tertulis. Kalau mereka kita SK, kita minta bertanggung jawab, kemudian kita tak melakukan pembinaan, monitoring secara langsung, lalu apa yang mestinya kita minta pertanggungjawaban? Kan nggak balance dengan apa yang mestinya kita bisa membina mereka.

Kita bisa membuatkan networking (jejaring), mungkin juga menginspirasi mereka yang mungkin itu sebetulnya menjadikan kekuatan karena mereka belum temukan itu, sehingga tidak tahu bahwa mereka sangat banyak memiliki kekuatan.

Sangat banyak pengajian di Jawa Timur, Jawa Tengah maupun Jawa Barat dan setiap pengajian mereka bilangnya “Muslimatan”, bukan pengajian. Jadi sampai segitu kuatnya brand Muslimat NU di hati mereka. Itu berarti Muslimat NU sudah masuk top of mind.

Artinya dalam konsolidasi itu anda juga menanamkan pola SWOT analysis?
Ya. Jadi pola-pola SWOT (Strengths, Weaknesses Opportunities, Threats) analysis, saya sering sampaikan seperti itu. Kan kalau di kita (Nahdlatul Ulama dan Muslimat NU), karena komunitasnya banyak kaum santri, saya suka sampaikan ini lho ada empat kategori manusia menurut Imam Al Ghazali. (Bagi Nahdliyin referensi Imam Ghazali cukup kuat di dalam membangun filsafat kehidupan)

Imam Al Ghazali menyebut empat ketegori manusia, pertama, rojulun yadri annahu yadri. Dia tahu bahwa dia punya kemampuan. Nah kalau seperti itu ‘disentil’ sedikit saja bisa langsung lari.

Kalau kategori kedua, rojulun yadri annahu la yadri. Dia tahu bahwa dia tidak mampu. Mereka yang masuk golongan ini akan terdorong untuk belajar: Oh ya saya harus begini-begitu, tapi saya belum punya kemampuan, kapasitas, jejaring. Maka dia akan terdorong melakukan perbaikan untuk melakukan peningkatan kapasitas, karena dia tahu.

Lalu, ketiga, ada ketegori rojulun la yadri annahu yadri. Dia tidak tahu bahwa dia mampu. Ini kan harus kita urai karena banyak ‘berlian di dalam lumpur’ nih.

Tapi ada ketegori, keempat, rojulun la yadri annahu la yadri. Dia tidak tahu bahwa dia tidak mampu. Nah yang begini banyak kan? Jadi perlu diajari, eh begini lho caranya menata organisasi, pembukuan dan seterusnya karena dia tidak tahu bahwa dia tidak mampu.

 SIARAN TAPPING: Khofifah IP melakukan siaran tapping di studio Metro TV bersama Prof Dr H Muhammad Quraish Shihab MA. | Foto: MNU Online

SIARAN TAPPING: Khofifah IP melakukan siaran tapping di studio Metro TV bersama Prof Dr H Muhammad Quraish Shihab MA. | Foto: MNU Online

Jadi di situ pentingnya pemimpin?
Betul. Kalau pemimpinnya tidak rajin turun, apalagi sebesar Indonesia, kebayang nggak bagaimana networking antara yang satu dengan yang lain terbangun. Selain itu mereka juga bisa melakukan studi banding.

Misalnya kalau koperasi studi bandingnya ke sini, begitu juga dengan RS atau lainnya dan saya mensayogyakan lebih memprioritaskan studi banding di internal Muslimat NU.

Mengapa cukup di internal Muslimat NU?
Di Muslimat NU itu ada stratifikasi, kelas A, B dan C. Dengan membuat stratifikasi maka kita bisa mengukur kemampuan, misalnya, cabang ini stratifikasinya baru kelas C, B atau A. Jangan studi bandingnya langsung di A plus, itu malah nanti jadi angan-angan.

Dengan begitu ilmu yang didapat kira-kira stratanya nanti gampang, dia mau mereplikasi kan lebih bermanfaat. Selain itu memungkinkan lebih sering silaturrahim antarpimpinan cabang.

Baik. Menjadi menteri sekaligus Ketum PP Muslimat NU membuat anda supersibuk dan butuh istirahat cukup, tapi jam segini anda masih bersedia melayani wawancara..
Ah, biasa. Di kantor juga sering. Kemarin itu ada yang ke sini ibu-ibu usianya 73 tahun-an. Mereka cerita sampai jam 12-an malam lebih. Ceria sekali. Itu kan sebenarnya masing-masing orang akan terbawa pada lingkungan yang sudah menyatu pada dirinya.

(Baca: Nyai Munjidah Wahab dan Cerita Sukses Gerakan Seribu Rupiah)

Artinya ada orang yang bisa tertib tidurnya delapan jam sehari, bagus juga untuk kesehatan. Orang yang seperti itu terus diajak tidur empat jam, begadangan gitu, wah badannya bisa sakit semua.

Tapi ada juga orang yang tidur empat jam dan sudah merasa cukup, ya cukup meskipun menurut dokter harus delapan jam.

Saya sendiri merasa sampai sekarang pun tidur empat jam sudah mewah. Alhamdulillah saya merasa badan ini tidak ada yang aneh. Saya merasa tetap bisa memaksimalkan tugas-tugas dan ya.. fine sih.

Nggak khawatir kalau terlalu memforsir energi?
Paling tidak saya harus menjadi dokter bagi diri saya. Itu akan bisa mendeteksi alarm body system saya. Kalau badan bilang break ya saya harus break karena selama ini saya merasa hampir selalu memaksimalkan energi. Bahkan mungkin setengahnya memforsir gitu.

Tapi kalau yang biasa tidurnya enam atau tujuh jam ya itu bawaan dalam diri. Sama seperti saya minum air putih dalam sehari, ngggak jelas berapa banyak. Kadang sekali minum bisa tiga gelas, tapi mungkin orang lain minum setengah gelas sudah cukup.• nur

Baca juga

Siapkan Generasi Emas Indonesia, Muslimat NU Pacu Kualitas PAUD

MNU Online | BANDUNG – Di 2045 nanti Indonesia memasuki usia satu abad (100 tahun). …

Watch Dragon ball super