Cabang Istimewa

Satu Jam, Pengurus Muslimat NU Jepang Diwejang Putri Gus Dur


SILATURAHIM PCIMNU JEPANG: Nyai Hj Shinta Nuriyah beserta putrinya, Alissa Wahid silaturahim dengan pengurus PCINU dan PCI Muslimat NU Jepang di Tokyo, pekan lalu.| Foto: MNU Online

MNU Online | TOKYO – Pekan lalu, Dewan Pakar PP Muslimat NU, Nyai Hj Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid (istri almaghfurlah KH Abdurrahman Wahid/Gus Dur) beserta putri sulungnya, Alissa Wahid melakukan serangkaian kegiatan kunjungan ke Jepang.

Dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi MNU Online, Senin (23/10), selain mengisi kuliah umum di Soka Gakkai Tokyo, keduanya juga menerima silaturahim dengan Pimpinan Cabang Istimewa (PCI) Muslimat NU dan PCINU Jepang di Hotel New Otani Chiyoda-ku Tokyo, Kamis (26/10).

Hadir dalam kesempatan tersebut pengurus Muslimat NU Jepang, Anggita Aninditya Prameswari Prabaningrum (ketua I) dan Erika Herliana (Sekretaris), serta Rais Syuriah PCINU Jepang, Ali Amin dan Ketua Tanfidziah Miftakhul Huda.

(Baca: Muslimat NU Malaysia Adakan Kem Ibadah, Peserta Bebas Biaya)

Lewat pertemuan yang berlangsung sekitar satu jam tersebut, Alissa memberikan wejangan bahwa NU adalah organisasi kemasyarakatan yang bersifat non politik dan tidak boleh terlibat dalam politik praktis.

Selain itu, posisi PCINU dan PCIMNU Jepang sebaiknya difokuskan untuk melawan dan mengikis radikalisme yang kian marak berkembang akhir-akhir ini.

“Di antaranya dengan menggalakkan konsep keluarga dalam NU, yaitu keluarga maslahah sebagai kunci ketahanan keluarga,” kata Alissa.

Ciri dalam keluarga maslahah, lanjutnya, adalah bapak-ibu yang shaleh, anak-anak yang abror (baik), rezeki yang cukup dan pergaulan yang baik dimana para anggotanya memiliki akhlak NU, yakni mabadi khaira ummah.

(Baca: Gelar Sunatan Massal, Muslimat NU-Aisyiyah Malaysia Kompak Galang Dana)

“Sebuah prinsip moral yang bertumpu pada lima pilar: Ash-shidq (kejujuran), al amarar wal wafa bil’ahdi (menunaikan semua kewajiban yang sudah dijanjikan), al’adalah (obyektif, proporsional dan taat asas), at-ta’awun (tolong menolong) dan istiqomah (berpendirian teguh),” papar Alissa.

Dengan demikian dapat menjelma menjadi sikap kemasyarakatan NU, yakni tawasuth (di tengah), tawazun (seimbang), tasamuh (toleran), i’tidal (lurus), ukhuwah (islamiyah, wathaniyah, basaniyah) dan amar ma’ruf nahi munkar.

“Para aktivis NU dimana pun berada harus mampu menampilkan diri dengan bertumpu pada nilai-nilai tersebut,” pinta Alissa.• nur

Baca juga

Pejabat KBRI Beri Taushiyah di Acara Muslimat NU Malaysia

MNU Online | KUALA LUMPUR – Biasanya, seorang pejabat diundang untuk membuka atau menutup acara. …

Watch Dragon ball super