Seruan Ketum Muslimat NU dari Jambi

Tak Cukup Dipimpin Para Profesional, Negeri Ini Butuh Diriyadhoi


BERSAMA ITU INDAH: Ketum Khofifah IP berpose bersama gubernur, walikota dan pengurus usai pelantikan PW Muslimat NU Jambi. | Foto: MNU Online

MNU Online | JAMBI – Semua yang hadir di Aula Asrama Haji Kota Jambi, Jumat (27/1), tertunduk. Sebagian lainnya terlihat tak kuasa membendung air mata saat Ketua Umum PP Muslimat NU Dra Hj Khofifah Indar Parawansa MSi mengajak hadirin beristighfar:

Astaghfirullah Rabbal Barroya
Astaghfirullah Minal khotoya.

Ya Allah Gusti
Ampuni kami
Ampuni dosa orang tua kami
Ampuni dosa guru-guru kami
Ampuni dosa pemimpin kami

Ya Allah Gusti
Ampuni kami
Ampuni dosa putra putri kami
Ampuni dosa kerabat kami
Ampuni dosa jamaah kami
   
Ya Allah Gusti
Ampuni kami
Ampuni dosa warga masyarakat kami
Ampuni dosa warga bangsa kami
Bersatu padu membangun negeri

Ya Allah Gusti
Ampuni kami
Satukan kami rukunkan kami
Buatkan kami membangun negeri
Ber-NKRI itu harga mati

Khofifah menegaskan, negeri ini tak cukup hanya dipimpin para profesional tapi harus ada yang meriyadhoi karena pada akhirnya kita semua berharap turun keberkahan dari Allah Swt.

“Negeri ini harus dibangun bersama-sama. Ada yang memimpin secara profesional, ada yang meriyadhoi. Ini yang kita jadikan satu kesatuan dalam menjalankan program-program di Muslimat NU,” katanya di sela melantik pengurus PW Muslimat NU Provinsi Jambi masa khidmat 2016-2021 yang dirangkai dengan tabligh akbar, sosialisasi hasil Kongres XVII dan deklarasi Laskar Anti Narkoba.

Khofifah juga mengajak diri dan semua warga bangsa untuk menjaga negeri ini secara bersama-sama dari berbagai persoalan yang terjadi, termasuk gurita bahaya narkoba. Jangan hanya memikirkan diri sendiri dan keluarganya.

Dia lantas mengutip Al Qur’an surat At Taubah ayat 122: Fa laula nafaro min kulli firqotim min hum tho-ifatul li yatafaqqohu fiddini wa li yundziru qoumahum idza roja’u ilaihim la’al lahum yahdzarun.

“Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya.”

(Baca: Patut Direnungkan: Potensi Zakat Rp 216 T, Baru Terkumpul Rp 2,6 T)

Ayat ini, kata Khofifah, bagus untuk referensi bersama karena sebagian ibu-ibu di Muslimat NU adalah ustadzah.

“Saya ambil belakangnya: li yundziru qoumahum. Ibu, jangan cuma bilang ah yang penting keluarga saya aman. Nggak cukup! Nggak ada gunanya berorganisasi kalau orientasinya cuma keluarga sendiri,” tegasnya.

Betul, lanjut Khofifah, keluarganya harus aman: quu anfusakum wa ahlikum naro. Tapi Al Qur’an mengajarkan: li yundziru qoumahum. Tugas ibu-ibu sekalian adalah mengingatkan anggota, jamaah dan warga.

“Eh, jangan hoax ya, eh jangan pakai mlintir ya, eh jangan viralkan sesuatu yang nggak pakai tabayyun ya. Itu tugas pimpinan. Nggak cukup keluarga saya aman, maka di situlah format ballighu ‘anni walau ayah (sampaikan walau satu ayat) ,” tegasnya.


LAWAN NARKOBA: Deklarasi Laskar Anti Narkoba, format Muslimat NU dalam mencegah peredaran dan penyelahgunaan narkoba. | Foto: MNU Online

Tugas kita, Khofifah sering kali bilang, harus menyinari bumi. Dia menganalogikan sinar itu matahari, matahari itu Muhammadiyah dan bumi lambang NU.

“Ya memang sudah pas kalau Muhammadiyah dan NU harus bersaudara. Ini juga yang harus jadi perhatian kita semua. Saya minta yang ahli tahlil biarkan berjalan, yang anti tahlil ya ngak apa-apa tapi nggak usah mengganggu. Begitu juga yang ahli shalwat dan anti shalawat,” katanya.

Kerukunan sederhana seperti ini harus diciptakan sendiri dan tidak perlu menunggu dari mana- mana.

“Kitalah yang jadi pendamai, penenteram dari suasana yg ada. Jangan sepertinya kita ini bersatu tapi hati kita masih sendiri-sendiri. Tahsabuhum jami’an wa qulubuhum syatta (QS Al Hasyr:17). Ayolah yang sederhana jangan dibikin njelimet, ruwet, ayo diurai.”

(Baca: Diundang Muslimat NU, Gubernur Jambi Wajibkan Diri untuk Hadir)

Karena itu,  kapanpun, dimanapun dan dalam situasi apapun, kehadiran Muslimat NU harus anfaauhum linnas.  Muslimat NU wajib memberi manfaat pada manusia yang lain.

“Kapan pun dimanapun dan dalam situasi apapun, barokna haula, menjadi referensi keberkahan di sekelilingnya. Apa itu berkah? Ziyadatul khoir, tambahnya kebaikan,” jelasnya.

Di situ ada Muslimat NU, maka usahakan kebaikan bertambah. “Mungkin yang kemarin bacaan Al Qur’annya kurang fasih, tajwidnya kurang bagus, ya dibagusi. Kemarin yang pelit sedekah, dengan kehadiran Muslimat NU sedekahnya lancar. Ini PR kira bersama: Alladziina yunfiquuna fis sarraa’i wad darraa.• ryn/aks

Baca juga

Khofifah: Jangan Biarkan Investasi Akhirat Tergerus Lewat Handphone

MNU Online | TANGSEL – Ketua Umum PP Muslimat NU, Dra Nyai Hj Khofifah Indar …

Watch Dragon ball super