Tantangan Kalangan Pesantren

Tak Hanya Ilmu Agama, Santri Perlu Kuasai STEM


SPESIFIKASI KEILMUAN: Ketum Khofifah IP, kalangan pesantren perlu berbagi tugas untuk menjawab pekerjaan rumah keumatan dengan spesifikasi keilmuan. | Foto: MNU Online

MNU Online | PROBOLINGGO – Hari ini pekerjaan rumah kalangan pesantren terkait keumatan sangat banyak dan perlu dijawab dengan spesifikasi keilmuan. Perlu berbagi tugas: Ada yang mendalami berbagai ilmu pengetahun dan teknologi, ada pula yang tetap tafaqquh fiddin (mendalami ilmu agama).

Jangan sampai, lantaran tidak memiliki ilmunya, para santri tidak ambil peran dalam pembangunan, termasuk hanya menjadi penonton melihat kekayaan alam yang dianugerahkan Allah Swt dieksplorasi bangsa lain. Padahal, di Jawa Timur saja, banyak tambang minyak dan emas yang membentang dari Tuban, Bojonegoro, Banyuwangi hingga Madura.

(Baca: Teror Bom Kampung Melayu, Ini Tanggapan Ketua Umum PP Muslimat NU)

“Para santri punya kesempatan untuk memperoleh pendidikan setinggi-tingginya,” kata Ketua Umum PP Muslimat NU, Dra Nyai Hj Khofifah Indar Parawansa MSi saat menghadiri Harlah ke-21 Pondok Pesantren Syekh Abdul Qodir Al Jailani di Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, Rabu (24/5) malam.

“Karena itu, orang tua dan para kiai harus memberi restu bagi santri untuk mengembangkan ilmunya di berbagai bidang, termasuk teknologi.”

Khofifah lantas mengutip Al Qur’an Surat At Taubah Ayat 122: Wamaa kaanal mukminuuna liyanfiruu kaaffatan. Falaula nafaro min kulli firqotin minhum thooifatul liyatafaqqohuu fiddiini waliyundziruu qoumahum idzaa roja’uu ilaihim la’allahum yahdzaruuna.

(Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya).

(Baca: Ultah ke-52, Khofifah Didoakan Ratusan Ribu Jamaah dan Kejutan di Bandara)

Ayat tersebut, kata Khofifah, memberikan referensi bagi kita jangan semua masuk ke medan perang. Para santri jangan hanya terkonsentrasi pada ilmu agama saja tapi juga terbuka dengan ilmu lainnya.

“Artinya, hari ini mestinya sudah banyak jenderal, ahli tambang dan seterusnya dari kalangan santri. Kalau kemudian hari ini belum, berarti memang kita belum secara strategis dan sistemik menyiapkan santri-santriwati untuk masuk ke jenjang ini,” paparnya.

Ilmu pengetahuan dan teknologi apa yang perlu diperioritaskan kalangan pesantren? Menilik peta dunia, lanjut Khofifah, negara maju di dunia rata-rata wajib harus menguasai STEM (Science, Technology, Engineering and Math/Economy).

STEM ini perlu dikuasai para santri agar tidak sebatas menjadi penonton di negeri sendiri, di saat Allah Swt memberikan begitu banyak kekayaan alam.

Khofifah mencontohkan di Banyuwangi ada empat tambang emas yang dieksplorasi. “Gusti Allah paring tambang tapi kedah ngagem ilmu (Allah Swt memberikan tambang tapi harus diambil manfaatnya menggunakan ilmu),” ucapnya.

(Baca: Teladani Ulama, Peran Besar Pesantren Perlu Dikabarkan)

“Artinya, santri memang harus ada yang disiapkan masuk fakultas pertambangan. Siap tidak?” tanya Khofifah yang dijawab para santri, “Siap!”

Lalu di Tuban, banyak sekali gunung kapur yang kemudian di wilayah itu didirikan pabrik semen. “Kapur jadi semen ini pakai ilmu, pakai teknologi. Santri harus ada yang masuk pada jurusan teknik sipil, teknik industri.”

Berikutnya di Madura, di darat maupun di laut gasnya melimpah. “Apa maknanya? Santri atas seizin orang tua dan kiai silakan masuk lagi jurusan pertambangan, ambil nanti program studi perminyakan. Kiai, nyuwun panjenengan pangestoni, beri santri izin.”

Berbagi Tugas


JAGA PESANTREN TETAP KOKOH: Tak hanya dibanjiri ribuan santri, Harlah ke-21 Ponpes Syekh Abdul Qodir Al Jailani juga dihadiri wali santri dan warga sekitar pesantren. | Foto: MNU Online

Namun demikian, dalam Al Qur’an disebutkan tetap harus ada yang tafaqquh fiddin. Pesantren harus tetap kokoh, majelis taklim, istighotsah maupun manaqib harus tetap berjalan dengan baik.

“Ada lagi tugas yang tak kalah berat dan nggak boleh berhenti, liyundiru qaumahum. Pesan-pesan para kiai harus sampai ke umat. Mengingatkan umat panjenegan, jamaah majelis taklim,” ujar Khofifah.

(Baca: Tak Lupa Akar NU, Di Sela Kunker Khofifah Ziarah ke Makam Sunan Bonang)

Terlebih melihat problem sekarang, anak-anak menjadi begal bukan untuk makan atau biaya sekolah tapi foya-foya. “Padahal (membegal) untuk makan saja tak boleh, apalagi untuk berfoya-foya. Ini menjadi tugas para guru, ustadz-ustadzah. Liyundiru qaumahum,” tambah Khofifah.

Idza roja’u ilaihim la’al lahum yahdzarun. Supaya seluruh jamaah mengerti . Mereka boleh melakukan apa dan tidak boleh melakukan apa.”

Bagi Khofifah, inilah cara kalangan pesantren dalam berbagi tugas. “Ada yang ngurusi keamanan, pertahanan maupun sumber daya alam, tetapi di dalam Al Qur’an juga disebutkan harus tetap ada yang tafaqquh fiddin,” tuntasnya.• nur

Baca juga

JANGAN BERHENTI DI LEVEL GUBERNUR: KH Said Aqil Siroj, kader-kader terbaik NU harus menjadi penentu kebijakan nasional. | Foto: MNU Online

Ketum PBNU: Sukses Kader Terbaik NU Jangan Berhenti di Level Gubernur

MNU Online | JAKARTA – Ketua Umum PBNU, Prof Dr KH Said Aqil Siroj MA …

Watch Dragon ball super