Jaga Tradisi NU

Tak Lupa Akar NU, Di Sela Kunker Khofifah Ziarah ke Makam Sunan Bonang


DOA KHUSUS: Ketum Hj Khofifah Indar Parawansa dipandu membaca doa khusus di depan makam Sunan Bonang. | Foto: MNU Online

MNU Online | TUBAN – Sepadat apapun jadwal kunjungan kerja (kunker) sebagai Menteri Sosial RI, Ketua Umum PP Muslimat NU Dra Nyai Hj Khofifah Indar Parawansa MSi tak pernah melupakan akar pribadi pesantren dan kader Nahdlatul Ulama.

Hal itu ditunjukkan Khofifah di sela kunker di Kabupaten Tuban. Usai menyalurkan bantuan sosial non tunai Program Keluarga Harapan (PKH) Kemensos di Pendopo Kabupaten Tuban, Senin (22/5), Khofifah menyempatkan diri berziarah ke Makam Sunan Bonang.

Kompleks makam salah satu Wali Songo yang kondang dengan tembang “Tombo Ati” itu berjarak sekitar 500 meter dari pendopo kabupaten, berdekatan dengan alun-alun dan Masjid Jami’ Tuban.

(Baca: Jaga Ketenangan Bangsa, Khofifah Shalawat Bersama Ratusan Ribu Jamaah)

Khofifah tiba di depan lorong menuju kompleks makam sekitar pukul 15.55 WIB. Turun dari mobil, dia bergegas menyusuri lorong dengan pemandangan kanan kiri deretan kios souvenir. Di sepanjang lorong Khofifah dielu-elukan pengunjung maupun pedagang yang berebut salaman. Sesekali langkahnya terhenti untuk melayani permintaan foto bersama.

“Kompleks makam Sunan Bonang ini merupakan salah satu destinasi unggulan untuk wisata religi di Jawa Timur,” kata Khofifah di sela menyusuri lorong.

“Semua fasilitas dan pelayanan tersedia. Mulai dari kios-kios souvenir, area pejalan kaki yang lebar dan teduh, area parkir yang memadai, tempat istirahat, tempat makan hingga tempat shalat semuanya nyaman dan bersih. Semua ditata dengan sangat baik.”

Tiba di kompleks makam, kehadiran Khofifah diterima Ketua Yayasan Sunan Bonang, KH A Mundzir. Selama 30 menit keduanya berbincang hangat dan santai.

Di ujung perbincangan Khofifah dihadiahi buku tentang sejarah penyebaran Islam di Tanah Jawa. Setelah itu Khofifah bersama rombongan diantar menuju makam Sunan Bonang yang berada di dalam cungkup.

(Baca: Teladani Ulama, Peran Besar Pesantren Perlu Dikabarkan)

Di depan makam Sunan Bonang, Khofifah dibimbing juru makam untuk membaca doa khusus yang berlangsung sekitar 10 menit. Dia terlihat khusyuk mengikuti setiap bacaan. Setelah itu diajak duduk untuk tahlil dan doa. Hampir 45 menit Khofifah larut dalam doa di pusara Kanjeng Sunan.

Selesai berdoa, Khofifah kemudian berbincang sejenak dengan Kiai Mundzir dan juru makam. Salah seorang rombongan sempat menanyakan ukuran makam yang panjang dan Khofifah ikut menimpali, “Iya, kok panjang,” katanya. Juru makam kemudian menjawab, “Mungkin orang dulu itu tinggi-tinggi (posturnya).”

Khofifah lantas teringat makam Siti Fatimah binti Maimun atau yang dikenal dengan Makam Panjang di Desa Leran, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik. “Sama itu, di sana makamnya juga panjang,” katanya.

Ajaran Masih Relevan


KHUSYUK BERDOA: Ketum Hj Khofifah IP berdoa di depan makam Sunan Bonang di sela kunker sebagai Mensos RI di Tuban. | Foto: MNU Online

Usai berziarah, Khofifah menuturkan Sunan Bonang adalah sosok yang patut diteladani atas upayanya membangun harmoni antarumat beragama. Hal itu bisa dilihat dari bangunan masjid, klenteng, pura dan gereja yang berarsitektur seperti bangunan di kompleks makam dan telah dibangun sejak zaman Sunan Bonang.

“Sunan Bonang merangkul orang-orang selain muslim tinggal yang tempat yang sama dan hidup dalam toleransi, rukun, serta damai,” kata Khofifah.

“Ini yang harus kita teladani dan terapkan dalam kehidupan sekarang. Ajaran beliau masih sangat relevan mengenai toleransi dan keberagaman. Kita memang berbeda-beda, tapi tetap satu Indonesia.”

(Baca: Ultah ke-52, Khofifah Didoakan Ratusan Ribu Jamaah dan Kejutan di Bandara)

Bukti lain dari toleransi dan keberagaman terlihat dari Prasasti Kalpataru yang merupakan rangkuman dari buah pemikiran Sunan Bonang.

Pada prasasti setinggi 180 cm tersebut, terukir empat tempat ibadah untuk agama berbeda-beda yakni masjid mewakili agama Islam, candi (Hindu), klenteng (Tridharma – Budha, Tao dan Konghucu) serta wihara (Budha). Satu lagi, terdapat arca megalitik atau kebudayaan mewakili pemujaan leluhur.

“Melalui prasasti tersebut kita bisa memaknai, ajaran dan kepercayaan yang berbeda-beda tidak membuat mereka terpecah-belah. Melalui sikap toleransi dalam masyarakat berbeda-beda agama itulah kenapa Islam dapat menyebar secara luas,” tambahnya.• nur

Baca juga

BERPULANG: Nyai Hj Aisyah Hamid Baidlowi binti KH Abdul Wahid Hasyim wafat) di Jakarta, Kamis (8/3). | Foto: NU Online

Nyai Aisyah Hamid Baidlowi, Mantan Ketum PP Muslimat NU Wafat

MNU Online | JAKARTA – Tepat di Hari Perempuan Internasional, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat …

Watch Dragon ball super