Tak Perlu UU Afirmasi, Cegah KDRT Cukup dengan Tiga Potongan Ayat Al Qur’an

ldii-1

ANTI NARKOBA KEKERASAN: Khofifah, antinarkoba dan antikekerasan dalam rumah tangga sama pentingnya | Foto: MNU Online

MNU Online | GRESIK – Memasuki hari ke-20 bulan suci Ramadhan, Ketua Umum PP Muslimat NU Khofifah Indar mengingatkan suami-istri untuk menjaga bangunan rumah tangga dengan perilaku saleh-salihah, agar tidak terjadi kekerasan dalam rumah tangga.

“Jangan sampai sudah hari ke-20 Ramadhan, ibu-ibu kalau ketemu suami lalu sulit tersenyum karena belum dibelikan baju baru,” kata Khofifah saat mengisi ceramah dalam pengajian ibu-ibu DPP LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) Kabupaten Gresik yang dirangkai dengan deklarasi antinarkoba dan kekerasan dalam rumah tangga, Sabtu (25/6).

Bagi Khofifah, antinarkoba dan antikekerasan dalam rumah tangga sama pentingnya. Dia lantas memberikan ilustrasi waktu KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi Presiden ke-4 RI dan di saat yang sama kedua sahabatnya, Abdullah Ahmad Badawi (Malaysia) dan Syekh Muhammad Khatami (Iran) juga menjadi pemimpin negara.

Ketika Syekh Khatami menjadi presiden Iran, saat itu seluruh anggota parlemen isinya laki-laki. Karena itu, dalam benak Syekh Khatami — yang disebut Khofifah kategori pemimpin moderat klerik — nggak mungkin membuat UU antikekerasan dalam rumah tangga karena pelaku KDRT rata-rata kaum lelaki.

Akhirnya yang dilakukan Syekh Khatami yakni mengundang seluruh mullah yang memiliki otoritas luar biasa di Iran. Disampaikan agar mengajarkan: wa ‘asiruhunna bil ma’ruf.

ldii-2

DEKLARASI: Didampingi Wabup Gresik Moh Qosim (kanan), Khofifah meneken deklarasi antinarkoba dan kekerasan dalam rumah tangga, Sabtu (25/6). | Foto: MNU Online

“Wahai suami sapalah istrimu dengan cara yang ma’ruf. Begitu juga sebaliknya. Lalu orang tua juga harus menyapa anak dengan cara ma’ruf,” kata Khofifah. Disampaikan pula oleh Syekh Khatami, lanjut Khofifah, bahwa suami dan istri, laki-laki dan perempuan untuk manjaga: ba’dhuhum auliyau ba’dh.

“Karena ini yang ngomong presiden maka transformasinya dahsyat sekali. Ba’dhuhum auliyau ba’dh, yang laki-laki boleh memimpin, yang perempuan juga boleh memimpin. Artinya apa? Proses dalam mengambil keputusan di dalam keluarga harus melibatkan kedua belah pihak,” tutur Khofifah.

“Kalau ada apa-apa coba dikomunikasikan, saling memproteksi. Jadi kalau arrijalu qowwamuna alannisa’ maka sesungguhnya kata qowwam di sini karena laki-laki cenderung memiliki kekuatan fisik lebih bagus. Itu tugasnya melindungi istrinya, bukan mengeksploitasi istrinya.”

Akhirnya, Syekh Khatami mengumpulkan para pemberi nasihat perkawinan. Mereka dipesan agar menyampikan tiga hal tersebut ke calon suami dan istri: Hunna libasul lakum wa antum libasul lahunna, ba’dhuhum auliyau ba’dh dan wa ‘asiruhunna bil ma’ruf.

“Hanya dengan tiga potongan ayat Al Qur’an itu di Iran tak perlu UU Afirmasi. Dulu kita punya UU kuota 30 persen. Karena yang melakukan ini presiden maka tidak perlu memakai UU kuota 30 persen. Dengan sistem distrik murni pada tahun 2000, langsung saja di Iran mendapat 16 persen keterwakilan perempuan.”

Tanpa lewat UU, kata Khofifah, tereduksilah kekerasan di dalam rumah tangga karena pemimpinnya mentransformasikan nilai-nilai bagaimana saling membangun damai, kasih dan seterusnya.

“Artinya ini perlu kita jadikan pesan untuk masyarakat kita. Sebab,  kekerasan di dalam keluarga itu kalau keluar bisa menjadi lebih besar lagi,” tandasnya. ♦ nur

Baca juga

Khofifah: Jangan Biarkan Investasi Akhirat Tergerus Lewat Handphone

MNU Online | TANGSEL – Ketua Umum PP Muslimat NU, Dra Nyai Hj Khofifah Indar …

Watch Dragon ball super