Home » SYI'AR » FIKROH »
Fikroh

Tasawuf dan Relevansinya untuk Kelanjutan Kehidupan Spiritualitas Nahdliyyin (1)

Oleh: Dr Hj Sri Mulyati MA
| Ketua I Pimpinan Pusat Muslimat NU

PADA saat ini dunia sedang dilanda krisis, bukan hanya krisis ekonomi, kesehatan, politik, lingkungan tetapi juga krisis spiritual. Mungkin dari segi pelaksanaan ajaran agama secara legal formal masih nampak, namun akhlak kepada sesama dan kehidupan spiritual nampak belum menggembirakan.

Fenomena yang terjadi di daerah perkotaan melalui berita di radio, televisi, internet dan sebagainya menginformasikan banyak peristiwa-peristiwa yang terjadi yang membuat kita prihatin.

Indonesia adalah negara yang ketika Islam datang ke archipelago ini mempunyai warna tersendiri, yang dengan nuansa spiritual sebagian da’inya mampu menembus nusantara dan diteruskan dengan sejarah walisongo yang bijak dalam dakwahnya, kemudian dapat mencapai jumlah pengikut yang sangat signifikan.

(Baca: Keberkahan – Barakah dan Kemakmuran)

Jalan spiritual/tasawuf mungkin dapat mencerahkan mereka sekarang yang masih tertarik kepada aspek esoterik Islam, yang menyangkut manfaat latihan spiritual (riyadlah) sebagai sarana pendidikan rohani manusia dan sebagai upaya pengendalian diri dari kehidupan yang hedonistis.

Melalui pensucian jiwa manusia dapat diharapkan menumbuhkan kedamaian dalam dirinya, kemudian mampu melahirkan kedamaian kepada sesama manusia dan selanjutnya damai dengan alam lingkungannya.

Masa depan manusia ditentukan oleh situasinya saat ini, siapapun dia dan dimanapun dia berada. Untuk meneliti pengaruh amaliah praktisi sufisme terhadap dinamika keberagamaan masyarakat sekitarnya diperlukan waktu yang lama dan aspek-aspek kemanusiaan lainnya serta suasana psikologis (situasi sosial, ekonomi, politik) mereka.

(Baca: Khurafat dalam Pandangan Islam)

Aspek-aspek tersebut merupakan potensi yang mempengaruhi kesinambungan atau ketidaksinambungan disiplin amaliah seseorang.

Tetapi dengan segala keterbatasan yang memang cukup manusiawi, orang tidak boleh berputus asa dan kecil hati dari rahmat Allah subhanahu wa ta’ala dan tetap meyakini bahwa janji Allah adalah pasti dan rahmat/kasih sayang Allah lebih luas dari murka-Nya. Siapa saja yang datang dan bertaubat kepada-Nya niscaya Allah akan mengampuninya.

Nilai-nilai Spiritual

Nahdlatul Ulama dengan badan otonom terkait hal ini yaitu Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh Muktabaroh al-Nahdliyyah (Jatman), sangat berpotensi dan mempunyai peluang serta tugas besar untuk mencerahkan warga NU agar lebih menyadari pentingnya nilai-nilai spiritual untuk mengimbangi kemajuan duniawi yang mungkin sudah dicapainya.

Di antaranya selalu berzikir mengingat Allah, akan mencegah kaum muslimin dari sikap tidak acuh terhadap pengawasan Tuhan Yang Maha Kuasa. Sebab, jika tidak memperhatikan hal ini, maka akan mendorong seseorang untuk melakukan dosa (al-ma’shiyya). Karenanya, mengingat Allah akan membantu masyarakat untuk menghindari permusuhan.

Ketika tasawuf meminta seseorang untuk mengosongkan hatinya (takhliyyat al-qalb) dari sifat buruk (al-radha’il) dan mengisinya dengan kebaikan (al-fada’il), hati seseorang menjadi penuh dengan kepastian bersinarnya cahaya suci (al-anwar al-qudsiyyah), membuat seseorang lebih dekat berhubungan dengan Tuhan. Sedemikian rupa hingga orang menyukai untuk ingat pada Tuhan dibandingkan mengikuti keinginan pribadi atau kepada segala yang lain kecuali Allah.

“Melalui pensucian jiwa manusia dapat diharapkan menumbuhkan kedamaian dalam dirinya, kemudian mampu melahirkan kedamaian kepada sesama manusia dan selanjutnya damai dengan alam lingkungannya.”

 

“Dia adalah yang dicari (al-mathlub); Dia yang paling disukai (al-marghub) dan Dia yang terkasih (al-mahbub).” Lebih lanjut seperti dijelaskan dalam Islam, “Dari-Nya kita diciptakan dan kepada-Nya akhir hidup kita akan dikembalikan.”

Pengarang kitab Miftah al-Shudur, KH Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin (Abah Anom) menjelaskan bahwa manusia tidak dibebani ketidakmungkinan (muhalan) di dunia ini, tetapi diberi tugas dalam kemungkinan (mumkinan) yang memerlukan perjuangan lahir dan batin (al-mujahadah al-zhahirah wa al-bathinah) dalam rangka membedakan antara sifat buruk (al-khabits) dan sifat baik (al-thayyib).

Kita dapat menemukan konfirmasi tentang ini dalam surat al-Zalzalah (99:7-8). Lebih dari itu, Tuhan Yang Maha Kuasa adalah Maha mencukupi; Dia tidak mengambil manfaat dari ketaatan seseorang maupun mendapat kerugian karena penentangan seseorang; sentuhan manfaat dan kejahatan hanya kembali kepada para hamba-hamba-Nya.

(Baca: Corak Pemikiran Tasawuf KH Hasyim Asy’ari – Bagian 1)

Ada ujian bagi seorang salik (spiritual traveler) untuk menentukan apakah ia sedang membiarkan jiwa jasmaninya untuk memimpinnya ke dalam kejahatan/malapetaka dan membentuk keinginan hawa nafsunya (al-syahawat) menurutnya sendiri.

Orang mungkin betul-betul tertarik dengan hal itu, walaupun demikian Allah memerintahkan seseorang untuk menentangnya dan takut untuk melakukan kejahatan (hal-hal yang tidak baik).

Jalan Menuju Tuhan

Begitulah, seorang individu yang memulai suatu perjalanan rohani akan menemukan keduanya; keinginan dan jalan menuju Tuhan yang menunggunya. Ia dihadapkan dengan sebuah pilihan sulit. Jika ia lebih menyukai untuk mengikuti keinginan nafsunya ia akan membuat Tuhan marah. Tetapi jika ia lebih menyukai perintah dari Tuhannya, ia harus membuat dirinya menjauhi keinginan hawa nafsunya; dan tidak ada pilihan lain.

Oleh karena itu, sufi tersebut menyarankan bahwa lebih baik bagi seseorang untuk memilih untuk kepentingan jiwanya. Beliau selanjutnya menjelaskan bahwa penyakit hati itu tersembunyi dari mata fisik seseorang, tetapi masih dapat dirasakan oleh mata batin.

Ia juga percaya bahwa ada suatu cahaya tersembunyi yang tidak terlihat oleh mata fisik, yang hanya dapat dirasakan oleh penglihatan internal (mata hati) seseorang dalam rangka mengalahkan penyakit rohani. Dengan demikian seseorang dikelilingi dan akan tampil dari kegelapan ke arah cahaya, dengan izin Tuhan.

Untuk mencapai kedamaian batin sendiri diperlukan tata cara yang khas. Tata cara batin (adab batin) menjadi lebih sulit untuk kita mengamalkannya dibandingkan tata cara fisik (adab zahir). Sebab itu memerlukan perjuangan yang lebih tersembunyi/halus antara manusia dan egonya, antara dirinya dan syaitan yang menggodanya, seperti halnya penyakit hati: kebencian (hiqd), kecemburuan (hasad), kebanggaan (‘ujb), pamer (riya’), kemunafikan (nifaq) dan lain-lain.

(Baca: Apa Itu Bid’ah?)

Siapapun yang mengikuti jalan ini tanpa mengikuti pemimpinnya (syaikh/mursyid), yang ‘arif billah ia akan tersesat di langkah pertamanya; sesungguhnya, adalah cukup mulia untuk menjadi bersama-sama dengan mereka yang mempunyai otoritas spiritual yang mencerahkan.

Telah diriwayatkan bahwa Nabi Musa (As), yang di antara para rasul termasuk rasul ‘ulu al-‘azm, bertanya kepada Nabi Khidr (As) tentang ilmu pengetahuan yang haqiqi (‘ilm al-haqiqah).

Dalam keterangan ini adalah jelas dan nyata adanya argumentasi kuat (aqwa dalil) untuk kewajiban mengikuti tasawuf, pengetahuan tentang tata cara hati (‘ilm adab al-qulub).

Dengan berkembangnya zaman tidak menyurutkan keampuhan dan manfaat dzikrullah. Dengan semakin berkembangnya jalan spiritual Islam di mancanegara menandakan keperluan terhadap bimbingan spiritual semakin dirasakan kepentingannya.

(Baca: Jika NU Tidak Ber-Khittah)

Sesungguhnya secara umum dapat dikatakan perspektif sufisme khususnya tariqah muktabarah dengan praktik latihan pensucian jiwa (tazkiyyat al-nafs), sangat baik dengan memperhatikan situasi sosial, ekonomi dan spiritual ummat Islam sekarang, baik di tingkat lokal, nasional, regional dan internasional.

Keberadaan fenomena latihan kejiwaan yang bernuansa spiritual telah menggejala di sejumlah tempat, ada yang terkait langsung atau terkadang tidak langsung dengan gerakan spiritual Islam tradisional, nampaknya belum juga mampu menolong kekeringan jiwa dan kedahagaan spiritual bangsa yang sedang bertarung dengan konsumerisme di satu sisi dan juga kemiskinan ekonomi dan nilai-nilai ruhaniah di sisi lain.

Selain itu, di tingkat internasional, Robithoh ‘Alam Islami juga tak mampu membawa aspirasi dan suara negara-negara anggotanya dalam percaturan wacana sosial, politik, ekonomi dan permasalahan kemanusiaan lainnya.

Menggugah Warga NU

Di antara tujuan yang mungkin perlu diperimbangkan adalah menggugah kembali warga Nahdlatul Ulama khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya, terhadap pentingnya mengadakan keseimbangan amaliah dzahir dan batin, akhlak mulia dalam perbuatan dan paradigma berpikir yang juga berorientasi pada nurani dan kebeningan hati.

Perlu juga diupayakan terciptanya kesadaran bahwa kedamaian yang dicari sesungguhnya berawal dari upaya mencari kedamaian melalui diri sendiri, yaitu kembali menyadari pentingnya upaya mensucikan jiwa untuk keseimbangan hidup.

Juga penting untuk menggerakkan kembali segala potensi spiritual yang dimiliki NU, untuk kemanfaatan yang optimal bagi bangsa dan seluruh insan sebagai solusi dari masalah kemanusiaan kontemporer sekarang ini.

Kiai Musthofa Mas`ud, dalam acara seminar revitalisasi sufi dalam rangka harlah NU beberapa waktu lalu di Surabaya, menjelaskan bahwa para sahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagiannya mempunyai kedalaman rasa (dhauq) yang tinggi dalam beragama.

(Baca: Surga dalam Persepsi Manusia)

Demikian seterusnya terjadi pada kaum muslimin dari waktu ke waktu hingga walisongo di Jawa, implementasi tasawuf di Sumatera abad 17 dan 18, di Kalimantan, Sulawesi dan seterusnya, bahkan hingga masa hadratussyaikh.

Bahkan Qanun Asasi yang dibuat oleh Hadratussyaikh yang kemudian Kiai A Wahid Hasyim yang membuat maudhu’ (topic/tematik)-nya yaitu terimplementasikan dalam preambule UUD 1945, “Dengan berkat rahmat Allah..,“  sementara itu KH Mahfudz Siddiq membuat lailatul ijtima’.

Selanjutnya Kiai Musthofa menerangkan ketika zamannya, mahasiswa PMKRI sekalipun, di Yogyakarta selalu mendapat bimbingan dari para senior Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia. Yaitu pada tahun pertama mereka di universitas, tentang ilmu-ilmu sosial dan pada tahun kedua tentang metodologi dan juga mempelajari/membahas kasus-kasus, hingga mencapai sejumlah 345 kasus yang terjadi dalam masyarakat.

(Baca: Jihad Melawan Narkoba)

Dengan demikian mahasiswa belajar mengenal masalah apa yang sesungguhnya sedang terjadi di masyarakat dan belajar mencari alternatif solusinya. Selanjutnya menurut beliau hal yang sama juga dilakukan pada sekolah theologia. Kemudian beliau menambahkan bahwa Amerika Serikat sesungguhnya tidak suka Islam, sementara Bung Karno apresiasi muslim, dan juga Abdul Haris Nasution.

Dalam kaitan dengan Indonesia, jika tidak ada kiai-kiai di Pulau Jawa (karena kiai-kiai saat itu memberi doa, dan juga keperluan logistik) melawan penjajah, sehingga usaha lahir dan batin tersebut membuahkan kemerdekaan.

Bahkan beliau juga mengatakan sebagai contoh, untuk kuota haji, pemerintah akan subsidi biaya haji untuk rakyatnya dan juga mensubidi modal untuk pengrajin batik, separuh dari masing-masing hal tersebut dianggarkan dalam APBN.•

Baca juga

Buka Mobilisasi Germas, Sekdaprov Kalsel: Sehat Dipengaruhi Faktor Makanan

MNU Online | BANJARMASIN – Sama seperti di Banten, mobilisasi Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) …

Watch Dragon ball super