Home » SYI'AR » FIKROH »
Fikroh

Tasawuf dan Relevansinya untuk Kelanjutan Kehidupan Spiritualitas Nahdliyyin (2-Habis)

Oleh: Dr Hj Sri Mulyati MA
| Ketua I Pimpinan Pusat Muslimat NU

KIAI MUSTHOFA juga mensinyalir, sesungguhnya saat itu nuansa spiritual kiai masih terasa ketika kemudian diketahui bahwa Amerika Serikat tidak suka kepada penguasa yang relatif dekat dengan kaum muslimin.

Saat itu Eisen Hower tumbangkan Soekarno yang dekat dengan orang Islam. Kemudian pada zaman Soeharto, Ali Murtopo dan Sujono Humardani juga melakukan gerakan de-NU-nisasi. Selanjutnya  Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari juga mengajarkan cinta rasul dan suka menggembirakan semua orang.

Jelaslah bahwa dimensi spiritualitas masih sangat diperlukan sebagai pelanjut kemajuan Indonesia. Nahdhiyyin harus melakukan istinbath dari Qanun Asasi dan sesungguhnya upaya semisal itu, menurut Kiai Musthofa, setara dengan Wilson pencetus Declaration of Independence of America.

Revitalisasi bagi warga NU antara lain dapat dilakukan dalam sikap tawadhu’ dan suka silaturrahim, seperti contoh yang diberikan hadratussyaikh ketika selesai Muktamar NU di Menes beliau menyempatkan mengunjungi K Ubaid di pedalaman.

Selanjutnya yaitu kembali ke khittah NU, yakni menghidupkan lailatul ijtima’ yang diciptakan oleh Abdul Wahid Hasyim dan KH Mahfudz Shiddiq. Inilah artinya kita harus kembali kepada akhlak hadratussyaikh yakni dalam lingkaran mencintai Allah, Rasul-Nya dan bangsa. Jadi rekonstruksi akhlak kembali kepada ajaran pendiri NU menjadi sebuah keniscayaan.

(Baca: Tasawuf dan Relevansinya untuk Kelanjutan Kehidupan Spiritualitas Nahdliyyin – 1 )

Pembicara selanjutnya yakni KH Lukman Hakim. Menurut beliau nama Nahdlatul Ulama adalah nama yang sangat sufisfik (dalam sejarahnya) dalam kitab al-Hikam ada kata “yunhidluka” oleh karenanya jangan berguru kepada orang yang tidak membangkitkan dirimu, yang dimaksudkan dengan membangkitkan di sini adalah terkait spiritualitas.

Kemudian beliau mempertanyakan apakah NU masih “yunhidluka ila Allah,“ apa tidak? Selanjutnya tentang kata “ana”, beliau membahas empat kisah. Pertama: Ada pertanyaan pada Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, kenapa anaknya iblis berkata ana khairun minhu?

Kedua: Al-Hallaj berkata “ana al-haqq” saat itu ia sedang masuk rumah Allah (kaki kanannya). Ketiga: Abu Yazid berkata “subhani”, artinya dia sedang pamitan, kaki kirinya sudah di luar. Keempat: Fir’aun berkata “ana rabbukumul a’la.”

Pada kasus ketika iblis berkata “ana khairun minhu”, dan Fir’aun ketika ia berkata “ana rabbukumul a’la,” ini menunjukkan egoism berdua iblis dan Fir’aun. Artinya jika dunia modern menjadikan mereka sebagai icon untuk kebangkitan industri, sumber daya manusia dan eskalasi peradaban, maka kehancuran sudah menanti.

Fir’aun adalah representasi dunia sihir, ana Fir’aun dan ana iblis telah menjadikan Eropa dan Barat modern, dapat juga perhatikan ketika para  filosof berkata “aku berfikir maka aku ada.” Sementara itu seorang sufi berkata “ketika engkau ada, Dia tidak ada.”

Ketika ada “filsafat eksplorasi aku” dan kemudian melahirkan dana dan energi, maka pada umumnya hal tersebut akan melahirkan kegelapan (dzulumat) jika tak ada keseimbangan sama sekali dengan filsafat cahaya (nuriyyat).

Mendamaikan Dunia

Selanjutnya Prof Dr Nur Syams menerangkan ketika menjawab pertanyaan apakah tasawuf dapat mendamaikan dunia, beliau menjawab bisa. Tasawuf dapat menjadi solusi, karena nilai-nilai tasawuf dapat berkontribusi besar dan mulai dari diri sendiri.

Tasawuf membangun kejujuran hati, pada kenyataannya, bagian dari tasawuf yakni tarekat sebagai proses pendidikan karakter di Thailand dan juga mahasiswa Jepang minta arahan dari guru, tapi tidak mahasiswa Indonesia, jadi, ada orang satya wacana: mana yang lebih religius.

Ketika ada acara anti-korupsi dengan menghadirkan sekitar 20 anak yatim, ada yang cium tangan ada yang tidak, alhamdulillah yang biasa cium tangan orang tua dan guru adalah anak-anak warga NU.

Namun yang masih disayangkan adalah bahwa pendidikan agama di sekolah yang terjadi baru pada tataran transfer of knowledge belum dilakukan dengan hati, pendidikan tasawuf adalah membentu karakter.

Menurut Prof Nur Syams tarekat dapat menjadi gerakan sosial, ketika pemberontakan Patani Banten 1888 melawan kolonilaisme yang sesungguhnya mereka itu adalah sebagian besarnya penganut tarekat. Anak kecil saja bersandar pada ayahnya mengapa kita tidak bersandar pada Allah. Tasawuf bukan klaim, tapi syakhsiyah yang tulus.

Zaman orde baru telah terjadi “deulamaisasi” dan “denunisasi”. Namun dengan semakin berkembangnya thoriqah, apakah akan menjadi industri/kapitalisasi agama karena ini dapat saja mengandung arti degradasi agama, jangan sampai thariqah sufi seperti itu, yakni besar rangka tapi tidak esensi.

(Baca: Corak Pemikiran Tasawuf KH Hasyim Asy’ari)

Dalam diskusi banyak bahasan manfaat terkait dengan implementasi tasawuf dan amaliah thariqah. Orang berdzikir bukan tujuan, perdamaian yang diharapkan adalah sebagai salah satu efek karena mpara dzakir sudah damai dengan diri mereka sendiri, jangan sampai amaliah tersebut menjadi hijab dengan Allah.

Jika terjadi kesalahfahaman antar mereka (pengikut thariqah yang berbeda) hendaknya saling memaafkan dan ini adalah tugas pendidikan dan dalam konteks NU, menurut Kiyai Muhit Muzadi, menjadi NU adalah menjadi Indonesia. Dan di antara yang penting adalah supaya pimpinan menjadi contoh bagi muslim dan juga penganut agama lain. Tasawuf, dapat me re revitalisasi dunia, jika fikir saja tidak bisa, dan Rasul memiliki kecerdasan hati (fathonah).

Kiai Musthofa menambahkan bahwa dari kakek beliau, Kiai Ramly Tamim, mengajarkan supaya memiliki kaya hati dan syukur nikmat. Sebagai warga NU bagaimana mungkin kita menolak kita sendiri, sekarang kegiatan-kegiatan kita termasuk dalam proses interaksi nasional, internasional inginnya “menyadarkan NU” betapa pentingnya spiritualitas, ada juga pertanyaan perlukah tasawuf dari TK sampai perguruan tinggi kita dan seperti apa? Menurut beliau, Ilmu yang paling baik adalah ilmu mengenal Allah, yakni tasawuf.

Tasawuf juga  adalah ”adab”, tatakrama yang santun dan ikhlas, karena dengan akhlak yang mulia akan mennjernihkan kalbu dan ada himbauan bahwa hendaknya janganlah mengikut seseorang yang tidak membangkitkan kalbumu. Kaum Nahdhiyyin harus mengenali betul amaliah kesehariannya dan latar belakang amaliyah tersebut beserta hujjahnya, untuk salawat badar misalnya, sebagaimana termaktub dalam Antologi Sejarah Istilah Amaliah Uswah NU menerangkan bahwa shalawat badar ini adalah hasil karya  Kiyai Ali Manshur, cucu KH Muhammad Shiddiq Jember.

Tahun 1960-an, ummat Islam Indonesia tengah menghadapi fitnah besar PKI dan ketika itu Kiyai Ali adalah kepala Kantor Departemen Agama Banyuwangi sekaligus seorang pengurus cabang NU disana. Sejak masih nyantri di Lirboyo Kediri, Kiyai Ali memang dikenal mahir membuat sya’ir berbahasa Arab. Karena keadaan politik yang mencekam saat itu dan kebejatan politik PKI yang membunuh lawan politiknya, hingga tak sedikit ulama yang menjadi korban mereka.

Kemudian terlintaslah di hati kiyai Ali untuk menulis suatu karya sebagai sarana bermunajat memohon bantuan Allah subhanahu wa ta’ala untuk meredam fitnah bagi kaum muslimin Indonesia saat itu. Dalam tidurnya di suatu malam Kiai Ali bermimpi didatangi serombongan manusia berjubah putih dan hijau.

Di malam yang sama istrinya bermimpi bertemu Rasulullah saw, keesokan harinya Kiai Ali mendatangi Habib Hadi al-Haddar. Kepada Habib Hadi ia menceritakan mimpinya. Habib Hadi kemudian menyatakan bahwa manusia manusia berjubah tsb adalah para ahli Badar, kemudian Kiai Ali menuliskan syairnya, jadilah shalawat Badar tersebut.

Untuk topik-topik lainnya antara lain dapat dibaca pada Tradisi Amaliah NU dan Dalil-Dalilnya yang diterbitkan Lembaga Ta’mir Masjid PBNU, dan beberapa buku lain misalnya Ahlul Bid’ah Hasanah Jawaban untuk Mereka yang Mempersoalkan Amalan Para Wali oleh Noval bin Muhammad Alaydrus, dan lain lain.

(Baca: Khurafat dalam Pandangan Islam)

Selain itu, kehidupan Nabi Muhammad Saw sebelum dan sesudah masa kenabiannya, juga perlu dijadikan teladan karena mencerminkan kehidupan sufi (antara lain zuhud dan wara’) dalam arti yang murni dan hakiki. Masa menjelang risalahnya beliau dengan asyik bertahannuts dan berkhalwat di Gua Hira’, menjauh dari keramaian dunia, bertafakkur dan merenung serta mensucikan jiwanya.

Tafakkur adalah dasar dari kegiatan esoterik, dasar dari olah rasa (dzauq), merenung atas keagungan Allah dan kagum atas alam semesta yang ada, hal ini mengarah kepada jalan menuju sedekat mungkin dengan Pencipta.

Ada beberapa riwayat terkait akhlak Rasulullah Aaw: “Demi Allah, kalau kalian mengetahui apa yang aku ketahui niscaya kalian tertawa sedikit, dan akan menangis sebanyak-banyaknya dan sejak kamu keluar menuju dataran tinggi berseru dengan suara melolong”. (HR. At-Tirmidzi).

Diriwayatkan oleh ‘Aisyah r.a. bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tegak berdiri shalat malam sehingga bengkak kedua telapak kakinya. ‘Aisyah bertanya kepadanya; “Mengapa Anda berbuat begitu rupa, sedangkan Allah telah mengampuni segala dosa Anda yang telah lalu maupun yang akan datang”. Maka beliau menjawab: “Tidakkah patut aku menjadi hamba yang bersyukur kepada-Nya”. (HR Bukhari Muslim)

Umar bin Khattab r.a. pernah masuk menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia lantas melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berbaring di atas sebuah tikar hingga membekas pda pinggangnya. ‘Umar pun terharu seraya menangis.

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya “Apa yang kau tangisi wahai ‘Umar? ‘Umar menjawab “Saya melihat Raja Romawi dan Persi bergelimang dalam pakaian yang serba sutera dewangga. Sedangkan Anda di atas tikar biasa’. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam  kemudian marah seraya berkata “Apakah engkau menyukai cara hidup kekaisaran (seperti Romawi dan Parsi) wahai ‘Umar?” (HR Ibnu Majah dan al-Hakim dan Ibnu Hibban).

Berbai’at Thariqah

Ada hal yang menarik dari hasil Muktamar Jam’iyyah Ahli Thariqah Muktabarah NU yang baru saja dilaksanaka di Malang. Majalah AULA mencatat beberapa keputusan yang dinilai timpang.

Soal keputusan agar seluruh pengurus NU di semua tingkatan berbai’at thariqah, misalnya ketika kalau rais NU berbai’at kepada mursyid yang banom NU, siapa yang harus tunduk kepada siapa? Dan juga ada matan, mahasiswa thariqah, serta ada Muslimat Thariqah, menggunakan terma yang boleh jadi kontroversi dengan banom yang punya nama depan yang sama.

Dari pihak Jatman sendiri secara resmi merekomendasikan kepada PBNU agar semua pengurus NU dibai’at menjadi pengamal thariqah. Banyak pihak menaruh harapan besar bagi jam’iyyah para sufi ini. Bukan hanya menjadi lampu penerang dan penyejuk ummat, melainkan juga diharapkan dapat memberikan kontribusi besar dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Menteri Agama mengharapkan agar tokoh agama sebagai agent of social change dapat menjadi teladan agar nilai etika dab moral dapat dianut masyarakat Indonesia. Sementara itu Hatta Radjasa berharap agar Jatman dapat berperan sebagai pemersatu ummat. Gus Ipul mengharapkan kehadiran ulama thariqah berkelanjutan di Jawa Timur, karena akan memberi keberkahan bagi pembangunan di daerah Jatim.

Sesungguhnya nilai-nilai yang diperjuangkan oleh para pendiri NU adalah ajaran thariqah. Berbagai kearifan sikap para pendahulu, hikmah-hikmah yang diajarkan dan dilakukan oleh mereka adalah hal-hal yang menjadi pesan thariqah. Thariqah bukan semata bai’at namun akan diketahui siapa yang menjamin moralitas seseorang ketika aktif di NU.

(Baca: Surga dalam Persepsi Manusia)

Dengan dibai’at, maka keraguan akan integritas personal seseorang dapat diminimalisir dan mencegah kecenderungan penyalahgunaan kewenangannya sebagai pimpinan organisasi untuk kepentingan tertentu termasuk untuk kepentingan politik praktis.

Dalam sejarah tarekat memang keterlibatan pengamal tercatat dalam sejarah, namun lebih kepada untuk kepentingan publik bukan pribadi misalnya keterlibatan penganut Syattariyah di Sumatera melawan Belanda karena menaikkan pajak untuk rakyat, pemberontakan patani Banten 1888, adalah merupakan upaya dari pengamal tarekat melawan penjajah Belanda.

Beberapa pihak yang keberatan dengan rekomendasi tersebut termasuk KH A Aziz Masyhuri (penulis yang merangkum 22 thariqah) dan Kiai Miftah karena alasan tidak semua warga NU mau masuk thariqah dan khawatir konsekuensi sebagai pengikut thariqah yang tidak dapat mengamalkannya, serta karena kedudukan Jatman adalah banom NU, dan perlunya otokoreksi bagi para pengamal thariqah itu sendiri.

Selanjutnya ujar kiai yang disebut namanya terakhir ini mengatakan keberatan tersebut hendaknya tidak dimaknai dirinya dan juga NU menolak kebaikan, apa yang sudah berlaku di NU dan juga di thariqah hendaknya dilakukan sesuai proporsinya.

Tentang keharusan pengurus NU bai’at thariqah sudah pernah diusulkan ke rapat pleno PBNU secara lisan bulan Maret 2011 di Yogyakarta, kemudian wacana tersebut mengemuka kembali secara lisan dalam forum Multaqo Sufi ‘Alamy di Jakarta pada bulan Juli 2011, dan kemudian disahkan sebagai rekomendasi tertulis dalam Muktamar XI Jatman, Januari 2012 di Malang, Jawa Timur.

(Baca: Perempuan Hadir untuk Menyempurnakan Agama)

Menurut salah seorang wakil Sekjen Jatman, thariqah adalah gerakan moral dan spiritual, dan itulah ruh NU, bahkan sebelum NU didirikan, maka rekomendasi tersebutadalah ajakan kebaikan agar ruh NU tetap terjaga.

Sesungguhnya dalam muktamar Jatman tahun 1989 di Mranggen, Purwodadi, Jawa Tengah, direkomendasikan bahwa seluruh pimpinan NU baik di pusat hingga daerah diharapkan bergabung dalam tarekat. Hal ini penting, karena NU merupakan organisasi keagamaan yang menuntut pemimpinnya seorang yang selalu mendekatkan diri kepada Allah.

Terkait kehadiran Matan (Mahasiswa Ahli Thariqah an-Nahdhiyah) dan Muslimat Thariqiyah juga mengundang beberapa komentar. Kehadiran Matan diharapkan dapat memperluas jaringan thariqah di lingkungan kampus yang selama ini kurang mendapat perhatian. Ini sekaligus membuka jaringan untuk pemuda dan pelajar agar thariqah tidak hanya identik dengan generasi tua.

Secara mendasar menurut panitia terbentuknya Matan juga dimaksudkan untuk memberikan warna tersendiri sebagai gerakan moral melalui uswah hasanah dengan menjauhi pendekatan konflik politik dan radikalisme dan tindak kekerasan.

Selain itu juga untuk pembangunan karakter (akhlak) melalui visinya, organisasi ini ingin melahirkan generasi dan calon pemimpin bangsa yang berlandaskan pada faham Ahlussunnah wal Jama’ah serta memiliki wawasan kebangsaan dengan menumbuhkan rasa cinta tanah air dan semangat nasionalisme.

Adapun Muslimat Thariqiyyah, memang beberapa syu’’biyah (pimpinan Cabang) sudah ada yang disahkan sk nya oleh Idaroh ‘Aliyah, hal itu dikarenakan rois ‘am yang menghendaki, kemudian pada muktamar XI, setiap Idaroh Wustho yang datang harus ada 2 orang muslimatnya.

Muslimat yang dimaksud jelas para pimpinan Muslimat NU, karena mereka berseragam Muslimat NU, sementara yang dimaksud dalam Muktamar adalah nantinya sebagai Muslimat Thariqiyyah. Bagi yang setuju adanya lembaga tersebut beranggapan bahwa mereka akan saling melengkapi ketika berada di lapangan namun alasan yang tidak setuju adanya Muslimat Thariqiyyah adalah akan membingungkan di tingkat akar rumput, sepertinya ada dua Muslimat dalam Jam’iyyah Nahdlatul Ulama.

(Baca: Membuka Pintu Rezeki Lewat Pernikahan)

Mungkin perlu dipertimbangkan oleh PBNU tentang penggunaan terma yang sama untuk dua instansi yang berbeda, serta mekanisme seperti apakah yang diperlukan sehingga pembentukan lembaga didalam banom dapat terdeteksi dan terkoordinir dengan baik oleh PBNU.

Muktamar Jatman XI sadar dengan tantangan yang kian kompleks maka menganggap lahirnya dua lajnah tersebut yakni Muslimat Thariqiyyah dan Matan adalah sebuah keniscayaan dan berharap siap bersinergi dengan organisasi yang sudah ada, PMII dan Muslimat NU, dan berharap kedua organisasi yang sudah ada terlebih dahulu dapat membimbing keduanya.

Tasawuf sebagai suatu ilmu pengetahuan mempelajari cara dan jalan bagaimana seorang muslim dapat berada sedekat mungkin dengan Tuhan, ini juga yang adalah merupakan tujuan baik langsung maupun tak langsung, namun beberapa hal dibawah ini mungkin dapat kita cermati bersama. Beberapa permasalahan antara lain sebagai berikut:

  1. Potensi pengembangan rohani di kalangan NU belum berjalan optimal, padahal nuansa tasawuf Nampak kental dalam amaliah hadratusy syaikh dan ulama NU terdahulu.
  2. Perhatian terhadap ajaran esoterik Islam baru sebatas wacana di banyak kalangan warga Nahdliyyin
  3. Solusi terhadap masalah-masalah sosial yang ada yang diajukan selama ini oleh NU yang tak bernuansa spiritual, telah menampakkan hasil yang tak memadai.
  4. Multidimensi masalah yang dihadapi bangsa tidak cukup diobati dengan pendekatan kemajuan fisik, materi, sosial, dan demokrasi saja tetapi juga memerlukan pendekatan rasa (dzauq) batin yang mencerahkan.
  5. NU sebagai bagian terbesar dari warga Indonesia yang ber ahlussunnah wal jama’ah, melalui Jatman diharapkan dapat berperan penting untuk mengambil tanggungjawab yang mulia atas nama umat Islam negeri ini, untuk menciptakan warga yang berkarakter baik (al-akhlaq al-karimah), sebagai rahmatan lil ‘alamin.•

Baca juga

Buka Mobilisasi Germas, Sekdaprov Kalsel: Sehat Dipengaruhi Faktor Makanan

MNU Online | BANJARMASIN – Sama seperti di Banten, mobilisasi Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) …

Watch Dragon ball super