NKRI Harga Mati

Teror Bom Kampung Melayu, Ini Tanggapan Ketua Umum PP Muslimat NU


JANGAN TERPANCING: Ketum Khofifah IP memberikan ceramah saat Harlah ke-21 Ponpes Syekh Abdul Qodir Al Jailani di Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, Rabu (24/5) malam. | Foto: MNU Online

MNU Online | PROBOLINGGO – Ledakan bom di kawasan Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur, dinilai Ketua Umum PP Muslimat NU, Dra Nyai Hj Khofifah Indar Parawansa MSi sepertinya ada yang tidak ingin kalau negeri ini aman. Karena itu, dia meminta semua pihak agar tidak terpancing atas kejadian tersebut.

“Jangan terpancing dan jangan memancing-mancing,” katanya di sela menghadiri Harlah ke-21 Pondok Pesantren Syekh Abdul Qodir Al Jailani di Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, Rabu (24/5) malam.

Menurutnya, peristiwa bom di Kampung Melayu adalah tindakan untuk memancing respons berlebihan masyarakat oleh kelompok tertentu. “Makanya jangan terpancing,” tandasnya.

(Baca: Tak Lupa Akar NU, Di Sela Kunker Khofifah Ziarah ke Makam Sunan Bonang)

Selain itu, peristiwa tersebut kian menguatkan peran penting pesantren dan para kiai untuk mengingatkan masyarakat dan generasi bangsa agar tak mudah terpengaruh ajakan orang atau kelompok yang ingin mengganggu ketenangan bangsa.

“Peran para ulama dan kalangan pesantren dibutuhkan untuk mengingatkan kalau ada yang mau mengganggu negeri ini, termasuk mengganti Pancasila dengan sistem khilafah,” katanya.

“Saya mau tanya, apakah di pesantren ini ada yang ingin mengganti Pancasila dengan sistem khilafah?” kata Khofifah yang secara serempak dijawab “Tidak!” oleh para santri dan hadirin. “Ini PR kita karena gangguan ini sering kali muncul.”

(Baca: Teladani Ulama, Peran Besar Pesantren Perlu Dikabarkan)

Terlebih, kata Khofifah, ulama maupun pesantren berperan besar atas pendirian NKRI. Dia mencontohkan peran besar KH Wahid Hasyim, salah seorang anggota BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dan PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia).

“Saya ingin sampaikan kalau Kiai Wahid Hasyim yang BPUPKI dan PPKI, yang akhirnya mendeklarasikan kemerdekaan, memproklamirkan kemerdekaan Indonesia,” katanya.

“Kiai Wahid Hasyim adalah putra Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, ayahanda KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Kalau kemudian ada anak-anak muda yang mengaku ‘trahnya’ NU lalu ingin mengubah dasar negara, bentuk negara, sistem pemerintahan ini, tolong diingatkan. Inilah tugas kita.”

Penguatan Muhasabah


PERINGATAN HARLAH: Ribuan santri dan warga menghadiri Harlah ke-21 Ponpes Syekh Abdul Qodir Al Jailani di Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, Rabu (24/5) malam. | Foto: MNU Online

Khofifah berharap Harlah ke-21 Pondok Pesantren Syekh Abdul Qodir Al Jailani ini menjadi penguatan muhasabah untuk menjaga keutuhan NKRI. “Tonggak-tonggak penguatan NKRI adalah pesantren-pesantren yang dikomandani para kiai NU. Salah satunya Ponpes ini,” katanya.

Apalagi usia Ponpes jauh lebih tua dari Indonesia. Khofifah merujuk banyak Ponpes yang berusia 100 tahun bahkan lebih. “Tiga hari lalu saya mendatangi imtihan ke-100 Ponpes Sukamiskin. Kalau imtihan ke-100 berarti usia pesantren lebih dari 100 tahun,” katanya.

(Baca: Jaga Ketenangan Bangsa, Khofifah Shalawat Bersama Ratusan Ribu Jamaah)

Begitu juga saat ada pertemuan antara Presiden Joko Widodo dengan para kiai di Jatim di sela pengukuhan Rais Aam PBNU yang juga Ketua Umum MUI, KH Ma’ruf Amin sebagai guru besar ilmu ekonomi muamalat syariah oleh UIN Maulana Malik Ibrahim (Maliki) Malang.

Dalam pertemuan terbatas itu ada pengasuh pesantren yang pesantrennya didirikan dari tahun 1700. “Artinya inilah pilar-pilar yang membangun semangat juang melawan penjajahan, apakah Belanda maupun Jepang pada saat itu,”ucapnya.

“Hanya saja para kiai ini perannya tidak ingin di-publish. Maka banyak sekali kiai yang tidak mengajukan sebagai apakah calon pahlawan, bintang mahaputra dan seterusnya karena keikhlasannya begitu luar biasa,” tuntas Khofifah.• nur

Baca juga

PENGUATAN MAJELIS TAKLIM: Workshop Bidang Ekonomi dan Koperasi Muslimat NU di Gedung PBNU, Rabu (7/11). | Foto: MNU Online

Hindari Rentenir, Muslimat NU Perkuat Majelis Taklim dengan Koperasi

MNU Online | JAKARTA – Induk Koperasi An-Nisa (Inkopan) Muslimat NU akan membantu membuatkan koperasi …

Watch Dragon ball super