Rapimnas Muslimat NU

Tipikal Aswaja: Beda Pendapat Tak Berujung Terpecah Belah


AKTUALISASI ASWAJA: KH Abdullah Syamsul Arifin menyampaikan materi Aktualisasi Aswaja yang sangat detail dan mendalam. | Foto: MNU Online

MNU Online | BOGOR – Ketua PCNU Kabupaten Jember yang juga pengasuh Ponpes Darul Arifin, Dr KH Abdullah Syamsul Arifin MHI meminta warga Muslimat NU jangan gampang kaget ketika ada perbedaan pendapat yang tajam di internal Nahdlatul Ulama (NU).

NU, kata kiai muda (41) yang akrab disapa Gus Aab tersebut, mengajarkan perbedaan pendapat jangan sampai saling menjelekkan, mengkafirkan atau bahkan memisahkan diri dari golongan.

“Dalam sisi konten materi, perbedaan pandangan dalam NU itu diajarkan. Tidak boleh sampai seperti itu (berujung perpecahan),” katanya saat menyampaikan materi Aktualisasi Aswaja (Ahlussunnah wal Jamaah) dalam Rapimnas Muslimat NU di Sentul, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (25/3) malam.

(Baca: Inilah Tujuh Hal yang Dibutuhkan Warga Muslimat NU)

Dia mencontohkan perbedaan pendapat yang dulu diperlihatkan Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari (Mbah Hasyim) dengan KH Muhammad Fakih Maskumambang, Gresik, Jawa Timur.

Mbah Hasyim tidak sepakat dengan penggunaan kentongan untuk menandai masuknya waktu shalat, tapi memilih penggunaan bedug. “Beliau yang kita kenal sebagai ahli hadits yang sangat teliti itu tidak menemukan dasar penggunaan kentongan,” katanya.

“Sebaliknya, Kiai Faqih menyatakan bahwa kentongan tidak apa-apa dipakai sebagai penanda waktu shalat karena posisinya sama dengan bedug.”

(Baca: Rapimnas Muslimat NU Dibuka Ketua PBNU, Dimeriahkan Acil Bimbo)

Melihat pendapat yang berbeda, Mbah Hasyim lantas memanggil seluruh tokoh NU untuk kemudian mempersilakan dua pendapat itu dipakai Nahdliyin tanpa harus saling mempertentangkan.

Nah, ketima Mbah Hasyim hendak datang ke Gresik, Kiai Faqih justru mengintruksikan pada santrinya agar di area yang kemungkinan akan dilewati dan ditinggali Mbah Hasyim disterilkan dari kentongan. Entah itu di mushala atau masjid.


TETAP SEMANGAT: di tengah fisik mulai lelah, peserta Rapimnas masih antusias menerima ‘materi berat’ terkait aktualisasi Aswaja. | Foto: MNU Online

“Kendati Kiai Faqih sangat berpegang pada pendapatanya, tetapi beliau sangat menghargai pendapat berbeda dari Kiai Hasyim,” katanya.

“Menghargai terhadap sesuatu yang beda ini semata-mata untuk menjaga al jamaah, sehingga tidak saling mengkafirkan, menyesatkan, menyalahkan satu dengan yang lain. Inilah yang memenjadi tradisi dalam Aswaja bahwa perbedaan silang pendapat yang tajam itu biasa di NU,” jelasnya.

(Baca: Bangun Kesadaran Bersosial Media, Rapimnas Hadirkan Gus Ipang)

Jadi, kata Gus Aab, yang lebih dijaga dan ditekankan dalam al jamaah itu adalah kekompakan, kebersamaan, persatuan, sehinga tidak boleh kalau hanya berbeda pandangan kemudian harus berpecah-belah, apalagi sampai membebaskan satu dengan yang lain.

“Itu yang dihindari dan tak boleh terjadi dalam Aswaja. Makanya yang lain tak boleh disebut al jamaah karena tidak memelihara pada kekompakan dan kebersamaan. Inilah yang menjadi tipikal Aswaja,” paparnya.• nur

Baca juga

BERPULANG: Nyai Hj Aisyah Hamid Baidlowi binti KH Abdul Wahid Hasyim wafat) di Jakarta, Kamis (8/3). | Foto: NU Online

Nyai Aisyah Hamid Baidlowi, Mantan Ketum PP Muslimat NU Wafat

MNU Online | JAKARTA – Tepat di Hari Perempuan Internasional, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat …

Watch Dragon ball super